Mayor Bambang Supeno

Mayor Bambang Supeno смотреть последние обновления за сегодня на .

Kisah Tragis Kolonel Legendaris Konseptor Sapta Marga TNI, Baru Jadi Brigjen Setelah Meninggal

16888
123
14
00:06:15
03.12.2021

Ini kisah tragis Kolonel legendaris konseptor Sapta Marga TNI, baru jadi Brigjen setelah meninggal dunia. Kolonel  legendaris konseptor Sapta Marga TNI adalah Bambang Soepeno. Dia terakhir berpangkat Brigadir Jenderal TNI Purnawirawan. Bambang Soepeno lahir di Malang Jawa Timur pada tanggal 23 Juli 1924. Dia dikenal sebagai konseptor Sapta Marga. Sapta Marga sendiri adalah doktrin TNI yang hingga sekarang masih dipegang teguh tentara nasional Indonesia. Berikut sekelumit fakta menarik tentang  Bambang Soepeno, perwira legendaris TNI  konseptor Sapta Marga.  Soepeno yang lahir di Malang ini, sempat jadi Panglima Divisi di Jawa Timur. Dia jadi Panglima Divisi saat masih berusia sangat muda yakni masih berusia 22 tahun. Namanya cukup  terkenal di masa perang kemerdekaan antara rentang tahun 1946 sampai 1949. Bambang Soepeno merupakan anak seorang Wedana. Saat berusia 13 tahun, ia  sudah jadi anak yatim, karena sang ayah meninggal dunia. Sejak masih remaja, Soepeno aktif di organisasi kepanduan. Salah satunya, ia pernah ikut Kepanduan Kebangsaan Indonesia (KBI). Bakat kepemimpinannya memang sudah terlihat sejak belia. Di setiap kegiatan kepanduan, Soepeno selalu ditunjuk jadi ketua. Ia mulai bersentuhan dengan dunia kemiliteran, ketika masuk tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk Jepang. Bambang Soepeno tercatat pernah mengikuti pendidikan PETA di Bogor. Nah, ketika meletus pemberontakan PETA di Blitar yang dipimpin Supriyadi, Bambang Soepeno sempat dipercaya untuk memimpin beberapa Shodancho Seinendojo menyelesaikan masalah pemberontakan tersebut. Salah satu tugas yang diemban  Bambang Soepeno adalah mengadakan kontak dengan Supriyadi. Tapi, pada akhirnya Bambang Soepeno merasa kecewa karena setelah pemberontakan bisa diredam, Jepang ingkar janji. Pada prajurit PETA yang menyerah awalnya akan diampuni. Tapi, tetap diadili. Sampai kemudian pada 14 Agustus 1945, tentara PETA dibubarkan. Setelah PETA bubar, Bambang Soepeno mengambil inisiatif untuk mengumpulkan berapa mantan anggota PETA. Hingga pertemuan  di rumah  Purbo Suwondo di Jalan Arjuno 20 Malang bisa dilakukan. Purbo Suwondo kelak jadi Letjen TNI. Pertemuan itu untuk menentukan sikap sekaligus juga konsolidasi yang ditindaklanjuti dengan kontak kepada  anggota-anggota Seinendojo dari daerah Probolinggo, Lumajang, Jember dan Bondowoso.  Pada tanggal 23 Agustus 1945, Bambang Soepeno hadir dalam rapat pembentukan BKR di Malang yang dipimpin Imam Soedja’i. Setelah itu, Bambang Soepeno  membentuk BKR-P atau Badan Keamanan Rakyat-Penyelidik. Ia kemudian diangkat jadi  Komandan Polisi Tentara Divisi VII/Untung Suropati dengan pangkat Mayor. Ketika berpangkat Kolonel,  Bambang Soepeno diangkat sebagai Panglima Komando Pertempuran Divisi.  Pada saat pertempuran besar meletus di Surabaya, Bambang Soepeno ikut andil bahu membahu  berkoodinasi dengan Komando Pertempuran di Surabaya  yang dipimpin Kolonel Sungkono. Karena pemikirannya yang menonjol,  Bambang Soepeno diangkat sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Darat. Ketika itu yang jadi  KSAD adalah  Abdul Haris Nasution. Jabatan itu adalah jabatan terakhirnya sebelum ia pensiun dari TNI.  Karirnya di TNI meredup karena Bambang Soepeno secara terang-terangan berani berbeda sikap dengan Nasution. Bahkan tak segan mengkritik kebijakan Nasution secara terbuka. Bambang Soepeno juga pernah mengirimkan surat berisi unek-uneknya ke DPR, hingga kemudian DPR ikut campur dalam urusan tentara. Ini yang memicu kemarahan Nasution. Sampai kemudian meletus peristiwa 17 Oktober 1952 dimana Istana Negara dikepung dan ditodong meriam oleh tentara pimpinan Letkol Kemal Idris. Para tentara ini menuntut pembubaran parlemen yang dianggapnya terlalu jauh mencampuri urusan internal TNI. Bambang Soepeno lalu dicopot oleh Nasution. Setelah itu karirnya langsung tenggelam. Baru terangkat kembali ketika Ahmad Yani memimpin Angkatan Darat. Oleh Ahmad Yani, Soepeno diangkat jadi Wakasad setelah  Gatot Subroto, Wakasad sebelumnya meninggal. Namun anehnya, pangkat Soepeno tak dinaikkan. Masih tetap Kolonel. Sampai akhirnya Ahmad Yani terbunuh dalam peristiwa G30S PKI. Nama Bambang Soepeno pun kian tenggelam setelah itu. Mengutip ulasan di Tirto.id, berjudul," Ironi Pencipta Sapta Marga," nasib Bambang Soepeno begitu tragis. Di era Soeharto menjadi pemimpin Angkatan Darat, Soepeno dipenjarakan. Tak jelas pasal apa yang dituduhkan padanya. Lima tahun Soepeno dibui dalam penjara. Pada tahun 1971 Bambang Soepeno dibebaskan. Namanya pun direhabilitasi kembali. Tapi, akibat lama mendekam dalam penjara fisik Soepeno memburuk. Ia sakit-sakitan. Sampai kemudian  pada tahun 1974, Soepeno meninggal. Baru setelah  meninggal Soepeno, Kolonel Legendaris konseptor Sapta Marga itu diberi pangkat Brigjen.

Beginilah Akhirnya Nasib Mayor Soekirno Danyon 454 Diponegoro yang Mendukung G30S PKI

66300
562
86
00:08:58
05.04.2022

Beginilah akhirnya nasib Mayor Soekirno Danyon 454 Diponegoro yang mendukung G30S PKI. Batalyon 454 Raider yang merupakan pasukan pemukul Kodam Diponegoro ini pada saat peristiwa G30S PKI meletus di Jakarta pada 1 Oktober 1965 sedang ada di Ibukota dalam rangka persiapan perayaan HUT TNI yang akan digelar pada 5 Oktober 1965. Batalyon 454 Banteng Raiders Kodam Diponegoro ini datang ke Jakarta dipimpin langsung oleh Komandan Batalyonnya Mayor Soekirno dan Wakil Komandan Kapten Koentjoro. Tapi sejarah pun mencatat, pasukan ini terseret dalam peristiwa berdarah penculikan enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat saat itu. Bahkan, sebagian personelnya terlibat langsung dalam operasi penculikan pada dini hari 1 Oktober 1965. Dalam artikel," Menyingkap Kabut Halim 1965, G30S versi purnawirawan AURI," yang dimuat di situs Rappler.com, sedikit diceritakan keterlibatan Mayor Soekirno, Danyon 454 Raider Diponegoro itu dalam tragedi berdarah penculikan para jenderal. Dalam artikel itu dikisahkan pada 30 September 1965, sekitar pukul 10.00 WIB, para perwira yang terlibat dalam operasi penculikan para jenderal berkumpul di Lubang Buaya. Dalam pertemuan itu, Letkol Untung Syamsuri Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa memberikan briefing kepada para pemimpin pelaksana Gerakan 30 September yang akan menjalankan aksi penculikan. Waktu itu hadir dalam pertemuan di Lubang Buaya, Kolonel Abdul Latief Komandan Brigade Infanteri 1 Jayasakti Kodam Jaya, Kapten Soeradi Prawirohardjo Kasi 1 Brigif 1 Jayasakti, Mayor Udara Soejono, Komandan pasukan pengawal pangkalan Halim Perdanakusuma dari AURI, Mayor Udara Gathot Soekrisno, perwira yang diperbantukan kepada Irjen Poleksos AURI merangkap anggota Staf Pengurus Besar Front Nasional. Juga hadir Mayor Soekirno Danyon 454/Raiders Diponegoro, Kapten Koentjoro Wadanyon 454 Raiders, dan Mayor Bambang Soepeno Danyon 530 Raiders Kodam Brawijaya. Sjam ketua Biro Khusus dan Soepono Marsoedidjojo wakil ketua I merangkap kepala Organisasi Khusus juga ikut dalam pertemuan itu. "Dalam pengarahan, Letkol Untung mengatakan tentang akan diadakannya gerakan pendahuluan untuk memberi pukulan yang menentukan terhadap kekuatan yang mereka sebut Dewan Jenderal," seperti dikutip dari artikel,"Menyingkap Kabut Halim 1965, G30S versi purnawirawan AURI," yang dimuat di situs Rappler.com. Pada ari Jum'at masih tanggal 30 September di parkir timur Kompleks Gelora Bung Karno, Yon 454 Raiders berserta semua satuan lain yang akan ikut serta dalam upacara parade hari ulang tahun ABRI melakukan gladi kotor. Menjelang sore, saat waktu istirahat tiba, turun perintah konsinyir. Semua anggota pasukan diperintahkan tidak keluar dari 'markas' sementara di Kebun Jeruk, Jakarta. Mayor Soekirno pun lantas memanggil semua komandan peleton pasukannya untuk diberi briefing. Dalam briefingnya Mayor Soekirno mengataka bahwa situasi Negara Siaga Satu. Kata Mayor Soekirno, ada kekuatan subversif Dewan Jendral yang akan menggulingkan kekuasaan Bung Karno. Dalam briefingnya juga, Mayor Soekirno menegaskan, Yon 454 terpanggil untukmenyelamatkan revolusi dengan mengamankan pemimpin besar revolusi Bung Karno. Setelah itu, Mayor Soekirno membagi pasukannya menjadi 2 kekuatan. Kompi A di pimpin langsung Mayor Soekirno langsung bergerak menuju Lubang Buaya. Sedangkan sisanya Kompi B dan Kompi C dipimpin Wadanyon Kapten Kuntjoro menuju Monumen Nasional (Monas). Mereka ditempatkan di sisi barat laut dekat pintu masuk Istana Merdeka dan mendapat briefing untuk membantu mengamankan Istana dan Studio Pusat RRI dari ancaman pasukan Dewan Jenderal. Setelah G30S PKI gagal di Jakarta, Mayor Soekirno langsung melarikan diri. Ia lari ke wilayah Jawa Tengah. Setelah berhasil lolos ke Jawa Tengah, Mayor Soekirno lalu bergabung dengan kelompok Kolonel Sahirman, Perwira Kodam Diponegoro yang juga pendukung G30S PKI. Bersama dengan kelompok Kolonel Sahirman, Mayor Soekirno menyingkir ke wilayah lereng gunung Merbabu dan Merapi. Mereka terus diburu tentara Angkatan Darat. Posisinya kian terjepit, setelah digulirkannya Komando Operasi Merapi pada 1 Desember 1965. Komando Operasi Merapi ini adalah sebuah operasi militer untuk mencari dan menghancurkan sisa-sisa kelompok G30S PKI. Operasi Merapi ini dipimpin langsung Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD. Mengutip buku," Kronik 65: Catatan Hari Per Hari Peristiwa G30S Sebelum Hingga Setelahnya (1963-1971)," yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan, pada 11 Desember 1965 Mayor Sukirno, Komandan Batalyon 454 Raiders Kodam Diponegoro ini tewas dalam operasi penyergapan yang dilancarkan pasukan gabungan yang tergabung dalam operasi Merapi. #g30spki #pki #mayorsoekirno

Kesaksian Jenderal Sjarief Thayeb Beritahu Ahmad Yani Bahwa PKI Akan Mengarak Dewan Jenderal

42312
323
54
00:05:09
14.01.2022

Kesaksian Jenderal Sjarief Thayeb Beritahu Ahmad Yani Bahwa PKI Akan Mengarak Dewan Jenderal Ini sekelumit cerita sejarah seputar peristiwa G30S PKI yang meletus pada awal Oktober 1965. Sekelumit cerita sejarah G30S PKI ini tentang kesaksian Jenderal Sjarief Thayeb beritahu Ahmad Yani bahwa PKI akan mengarak para jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal. Jenderal Sjarief Thayeb yang dimaksud adalah mantan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Indonesia dimasa Presiden Soekarno. Sjarief jadi Menteri Perguruan Tinggi di era Soekarno dari tahun 1964 sampai tahun 1966. Di era Soeharto jadi Presiden, Sjarief juga pernah jadi menteri yakni sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sjarief jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Soeharto dari 1974 sampai dengan tahun 1978. Sjarief berperan dalam operasi penumpasan G30S PKI. Ia cukup berperan dalam mendukung gerakan demonstrasi yang digerakkan oleh para mahasiswa, pelajar dan pemuda. Nah, masih seputar peristiwa G30S PKI, ada kesaksian menarik yang dituturkan Sjarief Thayeb dalam buku," "Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun," yang diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda. Kesaksian Sjarief ini terkait momen saat ia menghadap Letjen Ahmad Yani sebelum peristiwa berdarah G30S PKI meletus yang merenggut nyawa jenderal nomor satu di Angkatan Darat tersebut. Dalam buku itu, Sjarief bercerita, setelah ia selesai bertugas memimpin RSCM, ia diangkat Bung Karno jadi Presiden atau Rektor Universitas Indonesia. Lalu pada tanggal 27 Agustus 1964, ia ditarik oleh Bung Karno ke kabinet menjadi Menteri Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Satu hari, di akhir bulan September, Sjarief mendapat perintah dari Bung Karno menghadiri perayaan hari jadi negeri Cina pada 1 Oktober  1965 di Peking Cina. Bung Karno juga meminta, selama berkunjung ke Cina, Sjarief mempelajari perkembangan pendidikan di negara komunis tersebut itu. Sjarief masih ingat sebelum berangkat ke Peking Cina, ia menghadap kepada Letjen Ahmad Yani di rumahnya. Sjarief ingat, ia datang ke rumah Menteri Panglima Angkatan Darat itu pada tanggal 29 September 1965 "Pada tanggal 29 September 1965 saya menghadap Pak Yani di kediaman beliau, Jalan Lembang. Kedatangan saya mempunyai tujuan ganda. Pertama, sebagai seorang prajurit yang mengemban tugas kekaryaan ABRI saya wajib melaporkan rencana keberangkatan saya. Dan kedua, menyampaikan informasi yang bersumber dari kalangan mahasiswa," kata Sjarief dalam buku," Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun," yang diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda. Informasi yang didapat dari para mahasiswa itu, kata Sjarief bahwa pada tanggal 30 September, PKI akan “mengarak” para jenderal Angkatan Darat. Begitu dapat informasi tersebut, Letjen Ahmad Yani langsung memanggil Jenderal S Parman. "Pak Parman adalah Asisten I Menpangad, yang secara kebetulan berteman dengan saya ketika sama-sama menjadi mahasiswa di Jakarta pada zaman penjajahan dulu," kata Sjarief. Setelah Jenderal Parman menghadap, Letjen Ahmad bertanya, mengkonfirmasi informasi yang disampaikan Sjarief Thayeb. Jenderal Parman, kata Sjarief membenarkan informasi tersebut. "Menjawab pertanyaan konfirmatif dari Pak Yani, Pak Parman membenarkan informasi itu, namun demikian beliau menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan ketika semalam beliau berkeliling kota," kata Sjarief. Ternyata, apa yang dikhawatirkan itu terjadi. Para jenderal yang dituding Dewan Jenderal bukan diarak tapi diculik untuk kemudian dibunuh di Lubang Buaya. Ahmad Yani dan Jenderal Parman jadi korban dalam peristiwa berdarah 1 Oktober 1965 tersebut. Sjarief Thayeb sendiri saat peristiwa G30S PKI meletus sedang ada di Peking Cina. Tapi kemudian memutuskan pulang duluan bersama dengan Brigjen M Jusuf yang juga ikut dalam rombongan ke Peking. Lalu menghadap Mayjen Soeharto di Kostrad. Dan ikut bahu-membahu menumpas G30S PKI.

Ucapan Sedih Bung Karno Kepada Ajudannya Usai Diberhentikan dari Jabatan Presiden Oleh MPRS

25636
219
127
00:05:36
07.01.2022

Ucapan Sedih Bung Karno Kepada Ajudannya Usai Diberhentikan dari Jabatan Presiden Oleh MPRS Ada satu cerita sedih yang dikisahkan Kolonel KKO Bambang Widjanarko. Kisah sedih ini tentang Bung Karno di saat kekuasaannya sebagai Presiden benar-benar lepas dari tangannya. Kisah tentang ucapan sedih Bung Karno kepada ajudannya usai diberhentikan dari jabatan Presiden oleh MPRS. Ya, Kolonel Bambang Widjanarko adalah salah satu ajudan Bung Karno yang menemani sang proklamator itu diberhentikan dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia. Sebagai ajudan, Kolonel Bambang, ia termasuk salah satu lingkaran dekat Bung Karno. Hubungan Bambang dengan Bung Karno juga sangat dekat. Bambang kerap jadi tempat curhat Presiden. Kolonel Bambang jadi ajudan Bung Karno sampai Presiden Republik Indonesia pertama itu jatuh. Ia salah satu perwira yang menemani Presiden sampai ujung kekuasaannya. James Luhulima dalam buku,"Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965 : Melihat peristiwa G30S dari Perspektif Lain," mengisahkan, pada tahun 1966, paska peristiwa G30S PKI, perlahan pengaruh Bung Karno mulai meredup. Kekuasaannya sebagai Presiden satu persatu dipreteli. Terutama, ketika Letjen Soeharto yang saat itu sudah jadi Menteri Panglima Angkatan Darat diangkat jadi Ketua Presidium Kabinet Ampera. Dualisme kepemimpinan pun tak terhindarkan. James Luhulima menulis, pada tanggal 7 Februari 1967, Soekarno mengirimkan surat kepada Ketua Presidium Soeharto. Surat itu intinya Bung Karno ingin ada pembagian tugas yang jelas antara Presiden dan Ketua Presidium. Dalam suratnya, Bung Karno menyatakan pembagian tugas itu sangat penting untuk mengakhiri dualisme dalam pemerintahan. Tapi, setelah berdiskusi dengan para panglima angkatan, Soeharto menolak permintaan Presiden Soekarno. Praktis Bung Karno pun kian tersudutkan. Apalagi, empat hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 3 Februari 1967, Sidang Paripurna DPRGR menyatakan ketidakpuasan umum terhadap pidato Nawaksara yang disampaikan oleh Presiden Soekarno terkait peristiwa G30S PKI. DPRGR pun lalu meminta kepada MPRS untuk menyelenggarakan Sidang Istimewa selambat-lambatnya bulan Maret 1967. Pada tanggal 20 Februari 1966, Bung Karno mengajukan surat pengunduran diri sebagai Presiden dan menyerahkan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto. Surat pengunduran diri Presiden Soekarno itu lantas diproses dalam Sidang Istimewa MPRS yang berlangsung pada tanggal 7 sampai 12 Maret 1967. Sampai akhirnya, Sidang Istimewa MPR mengeluarkan Ketetapan MPRS Nomor XXXII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno. Ketetapan MPRS itu memutuskan untuk mencabut kekuasaan pemerintahan dari tangan Presiden Soekarno yang berlaku surut mulai 22 Februari 1967, dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Maka, pada bulan Maret 1967, berakhir pula kekuasaan Bung Karno. Menurut James Luhulima dalam bukunya, saat menerima berita tentang Ketetapan MPRS itu, Presiden Soekarno tengah berada di Istana Bogor. Dalam bukunya, "Sewindu Dekat Bung Karno," Kolonel Bambang Widjanarko yang saat itu jadi Ajudan Bung Karno bercerita, setelah menerima Surat Ketetapan MPRS Pemberhentian Presiden, ia melihat sang proklamator itu sedang termangu. Wajah Bung Karno begitu muram dan sedih. Kelihatan sekali betapa terpukul hati Bung Karno saat itu. Kolonel Bambang melihat Bung Karno lama duduk diam termangu tanpa berkata sepatah pun. Sampai akhirnya Bung Karno menarik napas panjang. Dengan raut muka sedih, Bung Karno pun berkata dengan lirih. "Aku telah berusaha memberikan segala sesuatu yang kuanggap baik bagi nusa dan bangsa Indonesia," kata Bung Karno dengan lirih. Padahal, jika Soekarno mau, mungkin ia bisa bertahan sebagai Presiden. Sebab saat itu, di luar Angkatan Darat, terutama Angkatan Laut masih mendukungnya. Namun Bung Karno memilih untuk mundur. Seperti diucapkan kepada Roeslan Abdulgani. Ia bisa saja melawan. Tapi, katanya pada Roeslan Abdulgani, ia memilih tenggelam ketimbang melihat bangsa Indonesia tercabik-cabik oleh perang saudara.

ISU DEWAN JENDERAL YG DIGORENG PKI SEDEMIKIAN RUPA HINGGA TERJADI AKSI BERONTAK KOMUNIS DI SURABAYA

3409
47
18
00:05:09
15.06.2022

G30spki G30s Pranoto reksosamoedro Njoto Bambang soepeno Basuki rachmat MH Lukman Muhammad hakim Lukman Sakirman Soedisman Jasir HADIBROTO Yasir hadibroto Pki Gestapu Gestok Ahmad yani Penculikan di rumah ahmad yani Ah nasution HUT PKI ke 45 Basuki rahmat Bintang MAHAPUTERA dn aidit Soekarno Dn aidit Soeharto Mt haryono Mas Titodharmo haryono R. Soeprapto Moersjid Tjakrabirawa Sutoyo siswomihardjo Nani nurrachman Ibrahim adjie Nani Sutoyo SOETOYO siswomihardjo Mung parhadimulyo Cakrabirawa Lubang buaya Benny Moerdani Sarwo Edhi Wibowo Sarwo edhi Pahlawan revolusi Siswondo Parman S parman Biografi pahlawan Amelia yani Nasakom Angkatan kelima Soegandhi Basuki rahmat Di pandjaitan D i pandjaitan Herman sarens soediro Donald isaac pandjaitan Omar Dani Omar dhani Djamin gintings Junus samosir Brigjen soepardjo My haryono My harjono Jamin Ginting Yoga SOEGOMO Ali moertopo Ali murtopo Jamin gintings SOEBANDRIO Subandrio Untung sjamsuri Untung syamsuri Kolonel Abdul latief Likas tarigan Mayjen pranoto Siswondo Parman Sjam kamaruzaman S Parman Brigjen Ashari Moersjid Mt haryono Soeprapto Pancasila Dark Star by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Death of Kings 2 by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Dangerous by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 The Angels Weep by Audionautix is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Artist: 🤍

Kepanikan Presiden Sukarno Menjelang Lanud Halim Diserbu Pasukan RPKAD

335849
2942
1937
00:05:46
26.11.2021

Kolonel KKO Bambang Widjanarko, ajudan Presiden Sukarno dan Mayor Bambang Supeno, Komandan Batalyon 430/Para Raider Brawijaya didepan Teperpu memberikan kesaksiannya atas peranan/keterlibatan Presiden Sukarno dalam peristiwa G30S/PKI. Bagaimana kejelasan nya? Traktir admin beli kopi : 🤍

G30S65:Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia,Keterlibatan Batalyon 530 dan 454 Bukti Peran Soeharto

12137
113
103
00:08:49
15.01.2021

,#WAWANCARA_DENGAN_WA_DAN_YON_530_MAYOR(PURN)_SOEKARBI,#KAMI_DIPERINTAH_PANGKOSTRAD_KE_JAKARTA, #Mengorek_Abu_Sejarah_Hitam_Indonesia,#Keterlibatan_Yon_530_dan_Yon_454_Bukti_Peran_Soeharto, *Yosef Tigio Taher: Mengorek_Abu_Sejarah_Hitam_Indonesia,* 🤍 › ...PDF yoseph tugio taher – mengorek abu sejarah hitam indonesia SUNDEL, adalah Akronim dari Kesusu Ngandel (Keburu Percaya), jangan diartikan macam-macam, Biasakan Tonton Sampai Akhir, Supaya Tidak Gagal Faham !!! Channel ini menyuguhkan penggalan peristiwa politik tempoh doeloe, kekinian, dalam kemasan pendek, momen-momen penting para tokoh berikut pergulatan dan pertarungan di atas panggung politik republik ini. Channel ini menyuguhkan hal dan peristiwa yg selama ini ditutupi, diberangus dan dihapuskan, ini dimaksudkan agar pemirsa memiliki sudut pandang yg bervariasi dari berbagai permasalahan yg terjadi sehingga mendapatkan pemahaman yg mendekati kebenaran, bukan sepihak. Pahami *thesa dan antithesanya* dr masing2 kasus, analisa dan bandingkan data dan informasi dari sumber2 yg ada. Ini akan menjadikan keluasan pandangan dan kearifan untuk memutuskan kesimpulannya. Sumber data dan berita didasarkan pada *Library Research* Hasil Penelitian (Scientific Approach), Biografi/Autobiografi dari pelaku/korban, Serta pendapat para ahli/sejarawan Kalau Suka Silahkan Klik Like Dan Subscribe. Jadilah Cerdas !!! Jangan Ngomel2 !!!

Brigjen TNI AD yang Membujuk Wadanyon 530 Brawijaya Ternyata Ikut Hancurkan PKI di Madiun

2428
52
11
00:07:22
21.06.2022

Brigjen  TNI AD yang membujuk Wadanyon 530 Brawijaya ternyata ikut hancurkan PKI di Madiun. Begitulah peran dari Sabirin Mochtar, perwira Kodam Brawijaya dalam sejarah penumpasan pemberontakan PKI di dua masa berbeda. Seperti diketahui, pada saat peristiwa Gerakan 30 September PKI meletus di Jakarta pada 1 Oktober 1965, Sabirin Mochtar, yang saat itu sedang ada di Jakarta, adalah perwira yang ditugaskan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk memanggil Danyon 530 Para, pasukan organiknya Kodam Brawijaya yang bersiaga di kawasan Thamrin dan sekitar Monas.  Pada waktu itu, Batalyon 530 sedang ada di Jakarta, dalam rangka persiapan mengikuti peringatan hari ulang tahun ABRI yang akan digelar pada 5 Oktober 1965.  Tapi kemudian pasukan Yon 530 ini bersama dengan pasukan Yon 454 Banteng Raiders Kodam Diponegoro diperalat oleh pimpinan G30S PKI untuk ikut dalam operasi militer Gerakan 30 September. Bahkan, ada sebagian dari pasukan Yon 530 yang terlibat langsung dalam operasi penculikan para jenderal pimpinan teras Angkatan Darat. Ketika itu, Yon  530 Kodam Brawijaya datang ke Jakarta dipimpin Komandan Batalyon Mayor Bambang Supeno.  Nah, Yon 454 dan Yon 530 ini oleh  Danyonnya masing-masing diperintahkan untuk bersiaga di kawasan Monas dan Thamrin dekat Istana. Instruksinya mereka harus menjaga Istana karena akan ada upaya kudeta dari Dewan Jenderal.  Brigjen Sabirin perwira yang diminta Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk memanggil Danyon 530 agar menghadap Pangkostrad untuk diberi penjelasan tentang situasi genting yang terjadi sebenarnya. Sementara, Letkol Ali Murtopo ditugaskan Soeharto untuk memanggil Danyon 454 Kodam Diponegoro. Pertimbangan Soeharto kenapa menugaskan Sabirin Mochtar dan Ali Murtopo, karena keduanya punya ikatan dengan dua pasukan tersebut yang pasti suaranya akan didengar. Sabirin Mochtar adalah perwira senior di Kodam Brawijaya yang cukup dihormati. Sementara Ali Murtopo, adalah mantan Komandan Yon 454.  Waktu pertama kali datang, Sabirin tak dapat bertemu dengan Danyon 530. Menurut keterangan Wadanyon 530 Kapten Soekarbi, Danyonnya sedang pergi ke Istana Negara untuk menghadap Bung Karno. Begitu pun dengan Ali Murtopo, dia juga tak bisa bertemu dengan Danyon 454. Ali Murtopo hanya ditemui oleh Wadanyon 454 Kapten Koentjoro yang menyatakan hal serupa jika komandannya sedang ke Istana. Sabirin dan Ali Murtopo pun lantas kembali Makostrad untuk melapor ke Pangkostrad. Setelah dilaporkan apa yang terjadi, Pangkostrad Mayjen Soeharto kembali memerintahkan Brigjen Sabirin dan Letkol Ali Murtopo untuk kembali ke kedua pasukan tersebut dengan instruksi, jika Danyon tak ada, Wadanyonnya diusahakan segera menghadap ke Kostrad. Sejarah pun mencatat, akhirnya Brigjen Sabirin Mochtar bisa meyakinkan Wadanyon 530 Kapten Soekarbi untuk segera datang ke Kostrad. Pun, Letkol Ali Murtopo, juga bisa membujuk Kapten Koentjoro, Wadanyon 454 agar segera menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto. Kedua Wadanyon itu pun akhirnya bertemu dengan Pangkostrad. Di Makostrad, Mayjen Soeharto memberi penjelasan jika kudeta Dewan Jenderal itu tidak benar. Mayjen Soeharto juga menginformasikan jika Presiden Soekarno tidak ada di Istana. Dalam pertemuan itu, Pangkostrad Mayjen Soeharto juga menegaskan jika Gerakan 30 September yang dilakukan Letkol Untung Syamsuri dan kawan-kawan itu sebagai sebuah pemberontakan.  Mayjen Soeharto mengatakan kepada dua Wadanyon 454 dan 530, ia akan menumpas pemberontakan Gerakan 30 September. Diakhir penjelasannya, Mayjen Soeharto mengultimatum kepada dua Wadanyon tersebut, agar sebelum pukul 18.00, pasukan Yon 454 dan 530 bergabung ke Makostrad. Jika membangkang artinya sudah ada di pihak lawan. Artinya pula akan berhadapan dengan Kostrad. Sejarah juga mencatat hanya Wadanyon 530 dari Kodam Brawijaya yang mematuhi ultimatum Pangkostrad dengan membawa pasukannya masuk ke Kostrad. Sementara Wadanyon 454 Kapten Koentjoro, memutuskan tak menggubris ultimatum Pangkostrad. Ia memilih membawa pasukannya menyingkir ke kawasan Halim.  Nah, ternyata, peran Brigjen Sabirin Mochtar itu sendiri tak hanya ikut dalam penumpasan Gerakan 30 September pada tahun 1965. Tapi dia juga ikut terlibat langsung menumpas pemberontakan PKI yang meletus di Madiun pada tahun 1948. Seperti dicatat, Letjen Purnawirawan Himawan Sutanto dalam bukunya," Madiun dari Republik ke Republik," dalam operasi penumpasan PKI di Madiun tahun 1948, pasukan yang dipimpin Sabirin Mochtar, adalah salah satu pasukan dari Jawa Timur yang ikut menyerbu ke Madiun dari arah Timur. Sementara dari arah Barat, dikerahkan pasukan dari Divisi Siliwangi.  Menurut Himawan, ketika menumpas pemberontakan PKI di Madiun, Sabirin Mochtar masih berpangkat Kapten. Dia adalah Komandan Kompi di bawah Brigade S pimpinan Letkol Surachmad. Masih menurut Letjen Himawan, pasukan Kompi Sabirin Mochtar bersama dengan pasukan pimpinan Sumadi dan Kompi Hizbullah bergerak menyerang Madiun dari Trenggalek. 

Jarang Terungkap, Kisah Pangdam Brawijaya Saat di Jakarta Beberapa Jam Usai Para Jenderal Diculik

75545
696
80
00:11:15
15.04.2022

Ini cerita yang jarang terungkap. Kisah Pangdam Brawijaya saat di Jakarta beberapa jam usai para jenderal diculik. Pangdam Brawijaya yang dimaksud adalah Brigjen Basuki Rahmat. Ketika peristiwa G30S PKI meletus di Jakarta pada 1 Oktober 1965, Brigjen Basuki Rahmat sedang ada di Jakarta. Mengutip buku, "Jenderal Anumerta Basuki Rahmat," yang ditulis RM Soebantardjo pada tanggal 30 September malam, Brigjen Basuki Rahmat ditemani Mayor Sugianto sempat menghadap Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani di rumahnya. Dalam pertemuan dengan Menpangad Letjen Ahmad Yani, Basuki Rahmat melaporkan kekhawatirannya soal sepakterjang PKI yang kian meresahkan. Terutama di Jawa Timur. Rencananya besok bersama Ahmad Yani akan melaporkan itu ke Bung Karno. Tapi, ternyata pada dini hari 1 Oktober 1965, Letjen Ahmad Yani jadi korban penculikan. Dalam buku," Jenderal Anumerta Basuki Rahmat," yang ditulis RM Soebantardjo diceritakan, pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, Brigjen Basuki Rahmat, Mayor Sugianto dan Kapten Subakir mempersiapkan diri untuk menghadap Letjen Ahmad Yani. Pagi itu, mereka dijadwalkan akan menemani Letjen Ahmad Yani menghadap Bung Karno di Istana Negara. Sebelum mereka berangkat datanglah seorang perwira menengah ABRI, yakni Kolonel Munaji. Kolonel Munaji melaporkan kepada Brigjen Basuki Rachmat bahwa pada dini hari 1 Oktober 1965, Menpangad Letjen Ahmad Yani telah diculik dan belum diketahui nasibnya. Menurut Kolonel Munaji dalam laporannya, usaha pencarian masih dilakukan terus. Tentu saja laporan dari Kolonel Munaji sangat mengejutkan Pangdam Brawijaya Brigjen Basuki Rahmat. Setelah itu, Basuki Rahmat segeramemerintahkan Mayor Sugianto dan Kapten Subakir supaya berganti pakaian dengan pakaian preman. Karena mereka belum tahu situasi yang sesungguhnya pada waktu itu. Mereka pun lantas bergerak ke kota dengan maksud untuk menyelidiki laporan itu. Pikiran pertama yang ada dibenak Brigjen Basuki Rahmat adalah mencari kontak dengan Batalyon Raiders 530 Kodam Brawijaya untuk mendapatkan keterangan-keterangan mengenai keadaan yang sesungguhnya. Seperti diketahui batalyon ini didatangkan ke Jakarta dalam rangka Hari Ulang Tahun TNI pada tanggal 5 Oktober 1965 nanti. Ketika itu Batalyon 530 Brawijaya dikonsentrasikan di Pasar Minggu Jakarta.  Setelah mengenakan pakaian preman, Pangdam Brawijaya dengan dua orang perwira itu, naik mobil preman pula. Mereka pun menuju ke Pasar Minggu. Ketika tiba ditempat itu ternyata Batalyon 530 Raider Brawijaya tidak ada di situ. Menurut keterangan warga di Pasar Minggu, Batalyon itu telah meninggalkan tempat tersebut sejak tanggal 1 Oktober 1965 jam 02 00.  Ketika mereka sampai di Lapangan Banteng mendadak mereka melihat Batalyon 530 Raiders. Pasukan Brawijaya itu dalam susunan siap tempur. Mereka semuanya mengenakan ikat leher kuning. Keberadaan pasukan Brawijaya di sana, membuat Brigjen Basuki Rahmat heran. Melihat ini Brigjen Basuki Rahmat menjadi curiga. Mereka tidak jadi masuk jalan Veteran dan melanjutkan orientasinya. Mereka heran dan bingung dengan apa yang mereka lihat. Karena mereka tidak tahu dengan pasti situasi yang sebenarnya, maka Mayor Sugianto menyarankan supaya pergi saja ke salah sebuah rumah kenalan mereka dan kemudian benstrahat di situ untuk beberapa waktu. Sementara Mayor Sugianto dan Kapten Subakir kembali diperintahkan untuk bmeninjau kota dan mencari keterangan tentang situasi yang sebenarnya terjadi. Sampai kemudian, saat Basuki Rahmat sedang asyik mendengarkan radio, terdengarlah dari radio siaran soal Dewan Revolusi. Brigjen Basuki Rahmat terkejut begitu mendengar namanya disebut sebagai Anggota Dewan Revolusi. Karena semua bingung, Basuki Rahmat kembali meminta Mayor Sugianto bersama Kapten Subakir pergi lagi untuk mencari informasi tentang keadaan yang lebih pasti. Mereka mengadakan orientasi di mana-mana dan akhirnya diperolehlah informasi bahwa di Kostrad pada waktu itu sedang diadakan pertemuan penting yang dipimpin oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto. Pertemuan di Kostrad itu juga dihadiri oleh Kepala Pomad (Polisi Militer Angkatan Darat). Pada Jam 14.00 Mayor Sugianto memperoleh keterangan dari Pomad bahwa peristiwa semua itu didalangi oleh PKI. PKI disebut telah mengadakanperebutan kekuasaan pada tanggal 30 September 1965 tengah malam untuk mendahului perebutan kekuasaan oleh apa yang mereka sebut Dewan Jenderal yang menurut mereka akan dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 1965 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun TNI nanti. Setelah dapat informasi itu, Mayor Sugianto dan Kapten Subakir kembali ke jalan Haji Agus Salim dan melaporkan kepada Basuki Rahmat tentang apa yang terjadi. Mereka juga memberi saran kepada Brigjen Basuki Rahmat agar pergi ke Kostrad. Maka kemudian dengan berpakaian preman, Basuki Rahmat dengan ditemani dua perwira itu pergi ke Kostrad. Lalu menggabungkan diri dengan kekuatan yang akan menumpas PKI.

Pengakuan Widjanarko Diberikan Secara Paksa

6401
72
46
00:06:46
10.06.2021

Roudhoh Chanel adalah chanel sejarah seputar tahun 1965 dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya. Sejarah yang selama ini disembunyikan oleh orde baru, kita kupas disini dengan mengambil dari sumber-sumber yang kredibel dan kompeten. #BeraniJujurHebat #Sejarah1965 * Copyright Disclaimer : - Under section 107 of the Copyright Act of 1976 - Every Video, Audio, Footage, Image etc in this content under terms of Fair Use, Permitted by Copyright Statute. - Every Content in this Channel for purpose such as Education, News Report, interpretation etc. *

Pada Tahun 1965 Remehkan Soeharto, Tahun 1948 PKI Salah Perhitungkan Kolonel Ini

16521
224
24
00:08:28
18.06.2022

Pada Tahun 1965 Remehkan Soeharto, Tahun 1948 PKI Salah Perhitungkan Kolonel Ini Dua kali pemberontakan yang dilakukan PKI mengalami kegagalan. Salah satu faktor penyebabnya karena mereka salah memperhitungkan posisi dari perwira TNI yang mereka pandang tak akan menyulitkan gerakan mereka. Pada tahun 1965,  Gerakan 30 September yang dilancarkan pada dini hari 1 Oktober 1965, gagal. Salah satunya karena mereka meremehkan Mayjen Soeharto, Pangkostrad saat itu. Soeharto, oleh para pentolan G30S PKI dianggap tidak akan jadi penghalang yang akan menghambat gerakan militer yang mereka lancarkan. Atau setidaknya akan bertindak netral. Ternyata, perhitungan itu meleset. Justru Soeharto yang kemudian jadi jenderal yang menggebuk kelompok Gerakan 30 September.  Ternyata, waktu PKI memberontak pada tahun 1948 yang dikenal dengan peristiwa pemberontakan PKI Madiun, mereka pun salah perhitungan. Salah memperhitungkan posisi para perwira yang awalnya disangka akan mendukung gerakan di Madiun. Mengutip buku,"Madiun dari Republik ke Republik," yang disusun Letjen Purnawirawan Himawan Sutanto, waktu itu yang dianggap pasukan PKI jadi musuhnya terutama hanya dari pasukan Divisi Siliwangi. Sementara pasukan-pasukan dari kesatuan lain, setidaknya mereka anggap akan berpihak pada mereka. Pasukan-pasukan dari Jawa Timur oleh PKI diyakini akan mendukung gerakan mereka di Madiun. Bahkan, menurut Himawan, ketika itu kaum komunis yang kemudian memproklamirkan gerakannya di Madiun, cukup yakin jika pasukan TNI dari Jawa Timur akan berpihak kepada mereka. Atau setidaknya akan bersikap pasif dan netral. "PKI memperhitungkan bahwa TNI Jawa Timur yang sedang berada dalam proses ReRa, dan sebagian besar kekuatannya berada di daerah pertahanan depan atau daerah “status quo”di Jawa Timur menghadapi Belanda, akan netral dan pasif," tulis Himawan Sutanto dalam buku,"Madiun dari Republik ke Republik," yang disusunnya. Perwira berpengaruh di Jawa Timur seperti Kolonel Sungkono, ketika itu oleh para pentolan pemberontakan PKI di Madiun akan berpihak kepada mereka. Alasannya, kemungkinan Sungkono kecewa dengan program ReRa atau Reorganisasi dan Rasionalisasi. Kolonel Sungkono memang terkena imbas dari program ReRa yang digulirkan pemerintah. Pangkatnya diturunkan dari Kolonel menjadi Letkol. Ketika Sungkono diturunkan pangkatnya, dia sempat menghadap Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sungkono dan Jenderal Sudirman sama- sama berasal dari Kabupaten Purbalingga. Oleh Jenderal Sudirman, Sungkono disarankan untuk menerimanya. Sungkono pun menunjukan ketaatan dan kepatriotannya. Sampai kemudian kaum komunis melakukan gerakan bersenjata yang dimulai dari Madiun. Situasi lain yang membuat PKI yakin pasukan-pasukan di Jawa Timur tidak akan mendukung pemerintah Indonesia adalah ketika Kolonel Bambang Supeno ditunjuk oleh Markas Besar Angkatan Perang Indonesia sebagai Panglima Divisi Jawa Timur. Menurut Himawan dalam bukunya, ketika itu belum ditetapkan dengan pasti, siapa yang akan menjadi Panglima Divisi. Dari tiga Divisi TNI yang ada ketika itu di Jawa Timur, yaitu Divisi V (Ronggo Lawe), Divisi VI (Narutama), Divisi VII (Untung Suropati) direorganisasi menjadi satu Divisi TNI. Nah Kolonel Bambang Supeno yang ditetapkan oleh Markas Besar Angkatan Perang sebagai Panglima Divisi. Tapi pengangkatan Kolonel Bambang Supeno ditolak oleh jajaran TNI Jawa Timur. "Penolakan penunjukan panglima ini ditafsirkan oleh PKI sebagai pembangkangan tentara di Jawa Timur terhadap pusat di Yogyakarta. Sehingga menurut perhitungannya, mereka akan mudah mempengaruhi tentara yang sudah membangkang. Dengan pelbagai cara (FDR) PKI berupaya untuk mempengaruhi tokoh-tokoh militer di Jawa Timur agar berpihak kepada mereka. Suasana kebimbangan yang melanda tentara di Jawa Timur, oleh PKI dinilainya sebagai suatu indikator, bahwa tentara di Jawa Timur akan berpihak kepada mereka," tulis Himawan Sutanto dalam bukunya. Namun perhitungan itu melesat. Sungkono justru menghantam kaum komunis yang memberontak di Madiun. Ketika itu, oleh Presiden Soekarno, Kolonel Sungkono ditunjuk jadi Gubernur Militer Jawa Timur. Salah satu tugasnya adalah memadamkan pemberontakan kaum komunis di Madiun. Maka, kelompok komunis pun dijepit dari dua arah. Dari arah Barat oleh pasukan Siliwangi. Sementara dari Timur oleh pasukan dari Komando Pertempuran Daerah Timur (KPDT). "PKI di Madiun menghadapi gerakan penjepitan dari dua arah. Perimbangan kekuatan militer tidak seimbang bagi PKI, enam Batalyon TNI menyerang dari arah barat, dan lima Batalyon dari arah timur. Teori serangan, di dalam taktik perang mengajarkan, bahwa kekuatan pasukan yang menyerang harus mempunyai keunggulan tiga kali lipat dibandingkan dengan pasukan yang bertahan. Apabila pasukan PKI yang bertahan di daerah Madiun dengan kurang lebih lima Batalyon, maka pasukan penyerang paling tidak harus lima belas Batalyon," tulis Himawan Sutanto dalam bukunya.

Mengapa Letjen Suharto Kawal Presiden Sukarno di HUT ABRI 5 Oktober 1966 ?

173173
1479
897
00:08:56
09.10.2021

Setelah absen pada 5 Oktober 1965, saat ABRI berduka di pemakaman para Jendral korban G30S/PKI. Presiden Sukarno didampingi Letnan Jenderal Soeharto, pengemban SP 11 Maret kembali muncul sebagai Inspektur Upacara HUT ABRI Ke-21 pada 5 Oktober 1966. Mengapa Letjen Soeharto harus mendampingi Presiden Sukarno? traktir admin beli kopi : 🤍

Pernyataan Brigjend Sugandhi Didepan Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu) Soal G30S/PKI

421271
5147
2543
00:06:53
16.11.2021

Pada awal tahun 1967, Ketua MPRS Jendral AH. Nasution menyatakan keterlibatan Presiden Soekarno dalam peristiwa G30S/PKI, hanya saja Nasution mengaku belum tahu persis sejauhmana keterlibatannya Bung Karno dalam peristiwa itu. Pernyataan Nasution itu berdasarkan dokumen pengakuan mantan ajudan presiden Soekarno, yakni brigjen Sugandhi didepan Teperpu. traktir admin beli kopi : 🤍

Nasib Kapten Kuntjoro Wadan Yon 454 Usai Diultimatum Soeharto Pasukannya Akan Dihancurkan

191887
1152
300
00:09:31
27.12.2021

Ini cerita tentang nasib Kapten Kuntjoro, Wakil Komandan Batalyon Infanteri 454 Para Raider Kodam Diponegoro. Seperti diketahui, Kapten Kuntjoro adalah perwira yang memimpin pasukan Yon 454 menyingkir ke daerah Lubang Buaya usai menghadap Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto di Markas Kostrad pada siang hari tanggal 1 Oktober 1965. Sekitar  pukul 12.00 siang,  Wadanyon 530 Kapten Soekarbi dan Wadanyon 454 Kapten Kuntjoro menghadap Mayjen Soeharto di Makostrad. Dari kedua Wadanyon itu, Soeharto dapat penjelasan jika dua pasukan itu disiagakan untuk menjaga Bung Karno dari rencana kup Dewan Jenderal. Mendengar itu, Mayjen Soeharto menegaskan, bahwa kup Dewan Jenderal itu tak betul. Ia juga menegaskan, bahwa gerakan yang dilakukan Letkol Untung dengan Dewan Revolusinya adalah sebuah pemberontakan. Ditegaskannya pula, ia akan menumpas pemberontakan itu. Maka, Mayjen Soeharto pun memerintahkan kedua Wadanyon itu untuk membawa anak buahnya masuk ke halaman Markas Kostrad. Ia beri tenggat waktu sampai pukul enam sore untuk merapat ke Kostrad. Saat itu, hanya Kapten Soekarbi yang dengan sigap menyatakan siap melaksanakan perintah. Tapi, Kapten Kuntjoro, Wadanyon 454  memberi jawaban sebaliknya. Kata Kapten Kuntjoro, dia akan  sampaikan lebih dulu perintah Pangkostrad kepada Komandan Batalyon. Mendengar jawaban Kapten Kuntjoro, Mayjen Soeharto langsung marah. Dengan suara tegas ia memberi ultimatum bernada ancaman. "Kalau perintah saya tadi tidak dilaksanakan, kalian akan saya hancurkan," demikian peringatan keras Mayjen Soeharto yang ditujukan kepada Kapten Kuntjoro, Wadanyon 454. Seperti diketahui, pasukan Yon 530 akhirnya merapat ke Kostrad. Sementara pasukan 454 mengabaikan perintah Pangkostrad dan memilih menyingkir ke kawasan Lubang Buaya dengan maksud menyusul komandannya. Pasukan Yon 454 yang dipimpin Kapten Kuntjoro sempat terlibat kontak tembak di sekitar Halim dengan pasukan RPKAD yang mengawal Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Seperti diketahui, pasukan RPKAD diperintahkan Mayjen Soeharto untuk menguasai Pangkalan Halim Perdanakusuma yang dicurigai bahwa di sekitar pangkalan jadi basis kelompok G30S PKI. Untungnya eskalasi kontak tembak antara Yon 454 dengan RPKAD tak berlanjut berkat campur tangan Komodor Dewanto, seorang perwira AURI dan pengawalnya Kapten Kundimang. Kedua pasukan sepakat menghentikan kontak tembak. Pasukan Yon 454 juga setuju untuk menyingkir dari Halim. Singkat cerita, pasukan RPKAD pun bisa menduduki Pangkalan Halim. Selanjutnya, Kolonel Sarwo Edhie bersama dengan Laksdya Sri Mulyono Herlambang terbang ke Istana Bogor. Sarwo Edhie ikut ke Istana Bogor dengan maksud hendak melapor ke Mayjen Soeharto yang diinformasikan juga dipanggil Bung Karno. Ternyata, saat tiba di Istana Bogor, Mayjen Soeharto sudah pulang. Sarwo Edhie sempat bertemu Bung Karno. Pada Sarwo Edhie, Bung Karno memerintahkan agar menghentikan kontak tembak. Bung Karno juga mengatakan pada Sarwo Edhie bahwa akan membuat nota penghentian tembak menembak kepada Brigjen Soepardjo. Saat itu, Sarwo Edhie heran, kenapa Bung Karno akan memberikan nota penghentian tembak menembak kepada Brigjen Soepardjo. Ia sempat menanyakan itu pada Bung Karno. Bung Karno menjawab bahwa yang memimpin Gerakan 30 September itu Brigjen Soepardjo. Setelah itu Sarwo Edhie kembali ke Halim dengan menggunakan helikopter AURI. Lalu, mencegat Mayjen Soeharto yang baru pulang dari Istana Bogor lewat jalan darat. Pada Soeharto, ia melaporkan tugas menguasai Halim telah selesai dilakukan. Mendengar itu, Mayjen Soeharto memerintahkan agar pasukan RPKAD ditarik dari Halim. Soeharto juga memerintahkan agar pasukan RPKAD untuk mencari keberadaan jenazah para jenderal. Lalu bagaimana dengan nasib Kapten Kuntjoro, Wadanyon 454? Hendro Subroto, dalam bukunya, "Dewan Revolusi PKI - Menguak Kegagalan Mengkomuniskan Indonesia" mengisahkan, setelah dapat nota penghentian tembak dengan yang diberikan Bung Karno untuk Brigjen Soepardjo, Kolonel Sarwo Edhie bersama Komodor Dewanto pergi ke lokasi pasukan Yon 454 di daerah Lubang Buaya dengan maksud mengantar surat Bung Karno kepada Soepardjo. Ternyata, Soepardjo sudah tak ada di sana. Yang ada hanya Kapten Kuntjoro, Wandanyon 454 dan pasukannya. Karena isi nota dari Bung Karno juga menyebut pasukan Yon 454, maka nota untuk Soepardjo itu diberikan kepada Kapten Kuntjoro. Menurut Hendro Subroto dalam bukunya, pada tanggal 3 Oktober 1965, pukul 06.30 keesokan harinya Kapten Koentjoro menelpon ke Wing Operasionil 001 bahwa pasukannya Yon 454 kan meninggalkan Lubang Buaya menuju Senayan. Setelah itu Kapten Kuntjoro bersama pasukannya meninggalkan Lubang Buaya dengan maksud menuju Senayan. Di Senayan, mereka pun menyerahkan diri. Lalu ditahan di Stadion Gelora Bung Karno. Kapten Kuntjoro pun akhirnya di bawa ke hadapan Mahkamah Militer Luar Biasa.

Kisah Brigjen Soepardjo Bertemu dengan Omar Dhani Setelah Para Jenderal Diculik

58041
347
123
00:05:36
20.09.2021

Ini kisah Brigjen Soepardjo bertemu dengan Omar Dhani setelah para jenderal diculik.  Brigjen Soepardjo yang dimaksud adalah salah satu tokoh penting dalam Gerakan 30 September 1965 yang terkenal dengan sebutan G30S PKI. Brigjen Soepardjo adalah satu-satunya perwira tinggi yang terlibat langsung dalam Gerakan 30 September. Sementara Omar Dhani, adalah Laksdya Udara Omar Dhani yang saat itu menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Udara atau Menpangau. Jabatan Menpangau saat ini sama dengan Kepala Staf Angkatan Udara.  Ada pun para jenderal yang diculik adalah enam jenderal yang merupakan pimpinan teras Angkatan Darat. Enam jenderal itu adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen R Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S Parman,  Mayjen  DI  Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. Ditambah satu perwira pertama Lettu Pierre Andreas Tendean yang merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Jenderal Abdul Haris Nasution sendiri selamat dari penculikan.  Mengutip buku," Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia," yang diterbitkan Sekretariat Negara Republik Indonesia, usai melakukan penculikan terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat, Brigjen Soepardjo diperintah Sjam Kamaruzaman salah satu pimpinan pelaksana G30S. Ia diperintahkan untuk membawa Presiden Soekarno dari Istana Negara ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Maka, Brigjen Soepardjo pun berangkat ke Istana menggunakan mobil. Ia berangkat ke Istana bersama Letkol Udara Heru Atmodjo, Mayor Bambang Supeno dan Mayor Soekirno. Dan Lettu Suwardi yang jadi supir. Ternyata, Presiden Soekarno tidak berada di Istana. Lalu, Brigjen Soepardjo minta Letkol Heru Atmodjo kembali ke Halim. Dalam buku tersebut dituliskan, Letkol Heru diperintahkan ke Halim untuk melaporkan situasi kepada Menpangau Laksdya Udara Omar Dhani. Di buku itu juga disebutkan, jika Omar Dhani lantas memerintahkan Letkol Heru menjemput Brigjen Soepardjo menggunakan helikopter dari Istana menuju Halim. Kepada Letkol Heru, Omar Dhani juga mengatakan, jika Presiden Soekarno akan segera tiba di Halim. brigjen soepardjo, brigjen soepardjo g30s pki, brigjen soepardjo dan soeharto, kisah brigjen soepardjo, pki dalang g30s pki, pengkhianatan g30s pki, film g30s pki, omar dhani vs soeharto, omar dhani dan g30s pki, pengkhianatan g30s pki full movie, film g30s pki, pengkhianatan g30s pki 1965, jenderal ahmad yani, jenderal s parman, jenderal nasution, soekarno, bung Karno, presiden soekarno masih hidup, bung karno masih hidup, bung karno meninggal, dalang g30s pki #g30spki #pki

Suplai Logistik Disita RPKAD, Pasukan Yon 454 Raider Pendukung G30S Kelaparan di Halim

83601
630
225
00:07:18
14.03.2022

Ini sekelumit cerita saat pasukan Yon 454 Raiders Diponegoro yang mendukung G30S kelaparan, karena suplai logistik disita pasukan RPKAD. Pasukan Yon 454 Raiders Diponegoro atau dikenal sebagai Batalyon Banteng Raiders Diponegoro ini adalah pasukan pemukul. Ini pasukan elitnya Kodam Diponegoro dengan kualifikasi raider. Ketika peristiwa G30S PKI meletus di Jakarta, pasukan ini terseret dalam peristiwa besar tersebut. Kala itu, ketika peristiwa G30S PKI meletus, pasukan Yon 454 Raiders Diponegoro sedang ada di Ibu Kota Jakarta. Yon 454 ada di Jakarta untuk persiapan mengikuti hari ulang tahu ABRI yang akan dilaksanakan pada 5 Oktober 1965. Namun kemudian oleh komandannya, Mayor Sukirno, pasukan Yon 454 disalahgunakan untuk mendukung Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung Syamsuri. Oleh pentolan G30S, pasukan Yon 454 sempat diperintahkan untuk menjaga sekitar Monas dan Istana Negara. Mereka disiagakan di sana, dengan perintah untuk mengamankan Presiden Soekarno dari upaya kudeta yang akan dilakukan Dewan Jenderal. Paska terjadinya penculikan enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Yon 454 Kodam Diponegoro dan Yon 530 Raiders dari Kodam Brawijaya yang disiagakan di sekitar Monas coba ditarik ke Markas Kostrad. Dua Wadanyon pasukan itu lantas menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, karena Komandan masing-masing pasukan tak ada di tempat. Kala itu yang jadi Wadanyon 454 adalah Kapten Kuntjoro, sementara Wadanyon 530, Kapten Soekarbi. Di Kostrad, saat sudah menghadap Pangkostrad, dua Wadanyon itu oleh Mayjen Soeharto diberi penjelasan bahwa isu kudeta Dewan Jenderal itu tak benar. Justru yang melakukan kudeta adalah Gerakan 30 September pimpinan Letkol Untung Syamsuri. Mayjen Soeharto juga menegaskan akan menumpas gerakan Letkol Untung. Mayjen Soeharto pun meminta agar dua pasukan itu segera merapat ke Kostrad paling lambat pukul enam sore. Jika sampai pukul enam sore tak masuk ke Markas Kostrad, Mayjen Soeharto mengultimatum akan menghancurkannya. Setelah dapat ultimatum itu, hanya pasukan Yon 530 dari Kodam Brawijaya yang merapat ke Kostrad. Sementara pasukan Yon 454 dengan dipimpin Wadanyon Kapten Kuntjoro justru memilih menyingkir ke wilayah Halim Perdanakusuma dengan maksud mencari komandannya Mayor Sukirno. Sejarah pun mencatat, pada tanggal 2 Oktober 1965, pasukan Yon 454 terlibat kontak tembak dengan pasukan RPKAD yang mengawal Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo yang hendak memasuki wilayah Halim. Tapi karena upaya Komodor Dewanto, seorang perwira tinggi AURI, kontak tembak bisa dihentikan. Pasukan Yon 454 sepakat untuk menyingkir dari wilayah Halim. Rupanya, setelah itu mereka kelaparan. Dalam buku," Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional," Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi mengungkapkan, pasukan Yon 454 kekurangan makanan, karena suplai logistik dipotong oleh pasukan RPKAD yang diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menguasai Halim. Ketika itu, pada pagi hari, 2 Oktober 1965 Sersan Mayor Sudiono dari Kompi Benhur Yon-1/RPKAD menahan dua truk yang membawa makanan. Makanan yang disita tersebut selanjutnya dibagikan kepada anggota Kompi Benhur Yon-1/RPKAD. "Di lain pihak Yon 454 Raiders yang tinggal berkekuatan sekitar 1 kompi karena sebagian lainnya memilih menyerah ke Kostrad, sudah dalam keadaan lemah, bergerak tanpa dukungan logistik maupun amunisi, dan tanpa peta," tulis Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi. Sore sebelumnya, Wadanyon Yon 454 Raiders, Kapten Kuntjoro menghadap Kolonel Wisnu, seorang perwira AURI yang bertugas di Pangkalan Halim Halim meminta izin untuk memasuki Halim. Tapi permintaan itu ditolak oleh Kolonel Wisnu. Permintaan untuk meminjam peta topografi kawasan pangkalan yang diajukan Kapten Kuntjoro juga ditolak. "Kapten Kuntjoro ternyata juga lepas kontak dengan Mayor Sukirno, atasannya langsung, dan G30S yang menjadi induknya seolah-olah telah bubar," tulis Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi dalam buku," Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional." Ternyata, kata Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi, saat itu, di waktu yang sama di Lubang Buaya, para pimpinan G30S tengah berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya, Mayor Sukirno Danyon 454 Raiders ikut hadir dengan sebagian pasukannya. Begitu juga Mayor Infanteri Bambang Supeno, Danyon 530/Raiders Brawijaya juga ikut hadir tapi tanpa pasukan. Pimpinan G30S yang hadir ketika itu antara lain Letkol Untung, Brigjen Soepardjo, Sjam, Kolonel Latief dan tokoh G30S lainnya. Menurut Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi, diskusi berlangsung lama tanpa keputusan. Terjadi perdebatan dalam diskusi itu. Brigjen Soepardjo meminta agar komando gerakan militer diberikan kepadanya. Kata Soepardjo, wewenang itu akan dikembalikan kepada Letkol Untung, setelah situasi dapat diatasi.

TARUNA AU DILUD4HI DARI ATAS PANSER

122393
1164
772
00:14:24
30.09.2021

Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dituding terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 atau G30S. Sumber Referensi: 1. Buku Menyingkap Kabut Halim 1965 2. Buku Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku Pledoi Omar Dani

Jenderal TB Simatupang. Bekas KNIL pengganti Jenderal Sudirman

509
15
3
00:08:03
31.12.2021

Jenderal TB Simatupang. Bekas KNIL pengganti Jenderal Sudirman jenderal tb simatupang merupakan salah satu tokoh militer Indonesia yang manjadi pahlawan nasional. tb simatupang berasal sumatera utara. video ini menjelaskan tentang kisah tb simatupang. tb simatupang merupakan wakil dari jenderal sudirman dalam perang revolusi kemerdekaan Indonesia. tb simatupang juga pernah menjabat sebagai KSAP setelah jenderal sudirman. sejarah singkat jenderal tb simatupang dapat anda saksikan di video ini! #tbsimatupang #sejarahindonesia

7 Perwira Tinggi Polri Naik Pangkat Menjadi Tipe A - iNews Sore 13/07

393110
728
23
00:02:06
13.07.2018

Tanggal Tayang: 13/07/18 Program berita harian yang menyajikan Informasi tercepat dan teraktual secara detail dari berbagai bidang secara LIVE, mulai dari peristiwa politik, hukum, sosial, budaya, ekonomi, dan olah raga, baik dari dalam ataupun luar negeri. Terdapat laporan langsung tim liputan handal kami dari tempat peristiwa yang bisa dijadikan sumber referensi informasi Anda. Dipandu oleh para host yang menarik, dengan gaya santai dan ringan. Saksikan iNews Pagi, iNews Siang, iNews Sore, dan iNews Malam, hanya di iNews agar Anda tidak tertinggal informasi. Subscribe iNews Official Youtube Channel: 🤍 Follow Our Official Twitter: 🤍 Check Our Official Website: 🤍 Like Our Official Facebook: 🤍 Follow Our Official Instagram: 🤍 Saksikan info berita terkini di: iNews Pagi: Senin – Jumat Pukul 06.00 - 07.30 WIB | Sabtu – Minggu Pukul 04.30 - 06.30 WIB iNews Siang: Senin – Jumat Pukul 12.00 - 13.30 WIB | Sabtu – Minggu Pukul 11.00 - 12.30 WIB iNews Sore: Setiap Hari Pukul 17.30 - 19.00 WIB | Sabtu - Minggu Pukul 16.30 - 18.00 WIB iNews Malam: Senin – Jumat 21.00 - 22.00 WIB Sabang, Lampung, Pelaihari, Banjarmasin, Masohi - 50 UHF | Lhokseumawe, Jabodetabek - 30 UHF | Banda Aceh - 40 UHF | Medan, Pontianak, Semarang - 45 UHF | Pematang Siantar - 58 UHF | Pekan Baru - 48 UHF | Tanah Datar, Bukit Tinggi, Palangkaraya - 33 UHF | Padang, Cirebon - 31 UHF | Batam, Samarinda - 61 UHF | Palembang, Kendari - 44 UHF | Pangkal Pinang - 37 UHF | Bengkulu, Merauke - 24 UHF | Bandung - 22 UHF | Tasikmalaya - 52 UHF | Magelang - 54 UHF | Surabaya - 62 UHF | Denpasar - 53 UHF | Mataram - 38 UHF | Kupang, Gorontalo 56 UHF | Makassar - 51 UHF | Mamuju - 28 UHF | Tarakan - 41 UHF | Palu - 45 UHF | Manado - 26 UHF | Ternate, Manokwari - 34 UHF | Indovision -Channel 83 |Top TV - Channel 83 | Okevision - Channel 101

peristiwa 17 oktober 1952

4370
16
2
00:01:50
06.04.2013

peristiwa ini merupakan usaha setengah kudeta (A.H Nasution). dimulai dari Kolonel Bambang Supeno tidak menyetujui kebijaksanaan Kolonel A.H. Nasution selaku KSAD. Ia mengajukan surat kepada Menteri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada Parlemen berisi soal tersebut dan meminta agar Kolonel A.H. Nasution diganti. Manai Sophian selaku anggota Parlemen mengajukan mosi agar pemerintah membentuk panitia khusus untuk memepelajari masalah tersebut dan mengajukan usul pemecahannya. Hal demikian dirasakan oleh pimpinan AD sebagai usaha campur tangan Parlemen dalam lingkungan AD. Pimpinan AD mendesak kepada Presiden agar membubarkan Parlemen. Desakan tersebut juga dilakukan oleh rakyat dengan mengadakan demonstrasi ke gedung Parlemen (waktu itu masih di Lapangan Banteng Timur) dan Istana Merdeka. Presiden menolak tuntutan pembubaran Parlemen dengan alasan ia tidak mau menjadi diktator, tetapi akan berusaha mempercepat pemilu. Kolonel A.H. Nasution mengajukan permohonan mengundurkan diri dan diikuti oleh Mayjen T.B. Simatupang. Jabatan KSAD digantikan Kolonel Bambang Sugeng.

Pahlawan Nasional TB Simatupang, Ketika Dia Menggebrak Pintu di depan Presiden Soekarno. #q369w

4225
48
4
00:08:35
31.05.2022

TB Simatupang merupakan salah satu pahlawan nasional, bersama dengan Abdul Haris Nasution dan Alek Kawilarang mereka adalah teman satu angkatan, Namun Alek Kawilarang pencetus pasukan elit kopassus belum diangkat menjadi pahlawan Nasional, Dalam catatan biografi TB Simatupang, dia merupakan orang tertinggi di TNI menggantikan Jenderal Soedirman. Masalah nya TB Simatupang kurang akur dengan presiden Soekarno. Puncaknya ketika Soekarno menggantikan jenderal Ahmad Nasution tanpa sepengetahuan nya, dia menggebrak pintu di depan presiden Soekarno, hal itu membuat Soekarno merasa terhina, sehingga TB Simatupang dipensiunkan secara dini. Channel Daftar Fakta Unik adalah Channel yang mengulas fakta unik dari berbagai Negara dengan Singkat Padat dan Jelas, dengan mengutamakan KEAKURATAN DATA, jangan lupa Subscribe untuk mendapat update Vidio terbaru dari Daftar Fakta Unik, Terimakasih. Semoga Hari Anda Menyenangkan.

MENEPIS ARGUMEN FADLI ZON: SOEHARTO TELAH MEMANIPULASI SEJARAH SERANGAN UMUM 1 MARET

164576
4955
1266
01:00:11
10.03.2022

Penetapan Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang terinspirasi oleh perist1wa Ser4ngan Umum 1 Maret 1949 menuai polemik yang berkepanjangan. Polemik yang awalnya dipicu oleh Fadli Zon terkait peran Soeharto dalam peristiwa itu diluruskan oleh Peneliti Sejarah Batara R Hutagalung. Siapa yang sebenarnya menjadi inisiator Serangan Umum 1 Maret yang berdampak secara politik yang sangat signifikan bagi eksistensi NKRI? Ikuti wawancara Rudi S Kamri dengan Batara R Hutagalung dalam rubrik HotNews berikut ini. #HotNews #SU1Maret #BataraHutagalung #RudiSKamri Untuk Menjaga Indonesia !!!

Sejarah Sumpah Prajurit Dalam Dunia Military

865
14
0
00:12:35
30.06.2019

Ketika Soekarno-Hatta mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, bangsa kita sudah memiliki milisi terlatih dari berbagai unsur, yang jumlahnya mencapai lebih dari 200 ribu personel. Milisi terlatih ini, disebut juga dengan istilah angkatan bersenjata, berasal dari berbagai unsur seperti KNIL, Heiho, Seinendan-Keibodan, PETA-Gyugun, Hizbullah dan sebagainya. Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan RI, dibentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) pada tanggal 22 Agustus 1945. Kemudian melalui Maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 27 Oktober 1945, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo selaku Kepala Markas Besar Umum TKR, memanggil temannya Kolonel R. Samidjo lulusan Koninklijke Militaire Academie (KMA), Breda, Belanda, untuk memulai mendirikan Akademi Militer Yogyakarta. Nama kecil Oerip Soemohardjo adalah Muhammad Sidik. Melalui surat kabar Kedaulatan Rakyat edisi 1 November 1945, dimuat sebuah pengumuman tentang pembukaan Akademi Militer Yogyakarta. Pada tanggal 13 November 1945 para kadet (Taruna) menggelar sayembara yang dipublikasikan di media, yaitu lomba membuat hymne kadet. Dari sayembara ini muncul pemenang bernama Soebagija Oetama, yang meraih hadiah sebesar Rp 50 (lima puluh rupiah). Soebagija Oetama menamakan karyanya dengan judul Soempah Pemoeda. Oleh penyelenggara sayembara, judulnya diganti menjadi Hymne Kadet. Untuk pertama kali Hymne Kadet diperdengarkan pada tanggal 11 Desember 1945 saat menyambut kembalinya para kadet (taruna) Akademi Militer Yogyakarta dari pertempuran di Surabaya. Hymne Kadet ini kemudian lebih dikenal dengan nama Hymne Taruna. Masih di bulan November 1945, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo selaku Kepala Markas Besar Umum TKR memerintahkan Mayor TB Simatoepang yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Bagian Organisasi untuk membenahi masalah organisasi TKR. Termasuk, menyusun Sumpah Prajurit. Butir-butir Sumpah Prajurit yang telah disetujui oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo adalah sebagai berikut: 01. Setia kepada pemerintah dan tunduk kepada Undang-undang dan ideologi Negara. 02. Tunduk kepada hukum tentara. 03. Menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan negara Republik Indonesia. 04. Memegang teguh disiplin tentara, berarti tunduk, setia, hormat, serta taat kepada atasan dengan tak membantah perintah atau putusan. 05. Memegang segala rahasia tentara sekeras-kerasnya. Enam tahun kemudian, pada peringatan hari lahir Angkatan Bersenjata ke-6, tanggal 05 Oktober 1951, untuk pertama kali dibacakan butir-butir Sapta Marga, sebagai berikut: SAPTA MARGA 01. Kami Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila. 02. Kami Patriot Indonesia, mendukung serta membela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah. 03. Kami Ksatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. 04. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, adalah Bhayangkari Negara dan Bangsa Indonesia. 05. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan Prajurit. 06. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mengutamakan keperwiraan di dalam melaksanakan tugas, serta senantiasa siap sedia berbakti kepada Negara dan Bangsa. 07. Kami Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia setia dan menepati janji serta Sumpah Prajurit. Sapta Marga merupakan kode etik bagi prajurit sebagai bentuk nyata dalam mempersiapkan bersatunya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Rumusan Sapta Marga dimaksudkan untuk mencegah perpecahan di dalam tubuh Angkatan Perang Republik Indonesia dari tarikan ekstrim kiri dan kanan. Butir-butir Sapta Marga dirumuskan secara bersama-sama oleh para pemikir di jajaran TNI serta para tokoh bangsa seperti Supomo, Ki Hajar Dewantara, Husen Djajadiningrat dan Mohammad Yamin. Ketua Tim Perumus dipimpin oleh Kolonel Bambang Supeno dibantu oleh Mayor Guritno, selaku Sekretaris. Para tokoh yang terlibat berupaya dengan keras merumuskan butir-butir Sapta Marga, kemudian rumusan tersebut disempurnakan oleh gabungan Kepala Staf. Semula, TB Simatoepang mengusulkan nama Pedoman Pradjurit, namun mayoritas peserta menginginkan istilah yang lebih terang dan jelas sekaligus menunjukkan sebuah identitas, serta dapat memberikan dimensi loyalitas, daya tarik yang besar dan imajinatif. Maka nama yang disepakati adalah Sapta Marga. Sapta berarti tujuh, dan marga berarti pegangan hidup. TB Simatoepang pun setuju dengan penamaan ini. Rumusan Sapta Marga ini kemudian ditandatangani oleh Letjen TB Simatupang (Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia), Kolonel AH Nasution (Kepala Staf Angkatan Darat), Kolonel Laut Soebyakto (Kepala Staf Angkatan Laut), Komodor S. Suryadharma (Kepala Staf Angkatan Udara).

KEPALA INTEL DICOPOT KARENA KEHILANGAN DOKUMEN RAHASIA DI PESAWAT

20024
386
24
00:10:36
26.06.2022

Jenderal Yoga Sugomo pernah dicopot dari tiga jabatan kepala intel sekaligus karena kehilangan dokumen rahasia. Sumber Referensi: 1. Buku Jenderal Yoga Loyalis di Balik Layar 2. Buku Intel Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia karya Ken Conboy 3. Buku Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 karya Heru Cahyono

BAMBANG JAYA WISESA Lakon Langka - Wayang Golek RH Tjetjep Supriadi Panca Komara

11060
95
60
01:51:35
24.12.2020

WAYANG GOLEK PANCA KOMARA RH TJETJEP SUPRIADI / RH CECEP SUPRIADI BAMBANG JAYA WISESA Carios iyeu seu'eur haleuang Rahwana Gaya Bah Cecep Supriadi.. Spesial kanggo sadayana.. 🙏 WILUJENG NYAKSENI TONG HILAP DI TONTON CARIOS CARIOS ANU SANES ABAH RH TJETJEP SUPRIADI 👇👇👇👇👇👇👇👇👇 JAYA GENI SERI 1 🤍 JAYA GENI SERI 2 🤍 DEWI SRIE 🤍 BANGBANG DASAWALIKRAMA 🤍 BEGAWAN BAGASPATI PERLAYA 🤍 BAMBANG SUTRI RASA 🤍 ASTRAJINGGA MANTU 🤍 SATRIA PANCA SOKA 🤍 DORNA MALING 🤍 NURKALAKALIDASA 🤍 SEMAR DI USIR 🤍 SANGHYANG NALA GARENG 1 🤍 SANGHYANG NALA GARENG 2 🤍 GENJLONG JAGAT FULL 🤍 BANGBANG ARASOMA FULL 🤍 BANYU NETRA SERI 1 🤍 BANYU NETRA SERI 2 🤍 MAHABARATA BARATAYUDHA "A 🤍 MAHABARATA BARATAYUDHA "B 🤍 SATRIA MULYA AJI FULL 🤍 BABAD BANTEN 1 🤍 BABAD BANTEN 2 🤍 GORAWANGSA MALING FULL 🤍 PRABU SAPU JAGAT FULL 🤍 SANGHYANG WALANG SANGIT FULL 🤍 BIMA EDAN FULL 🤍 PANCA DARMA FULL 🤍 AJIAN PANCA SONA 🤍 TUTUKA MANGGALA YUDHA FULL Eka Supriadi ( Putra Panca Komara ) 🤍 CEPOT KEMBAR FULL H Aam Supriadi ( Panca Komara 2 ) 🤍 CEPOT HAYANG KAWIN PART 1 Eka Supriadi ( Putra Panca Komara ) 🤍 CEPOT HAYANG KAWIN PART 2 Eka Supriadi ( Putra Panca Komara ) 🤍 #wayanggolek #cecepsupriadi #pancakomara #karawang #tjetjepsupriadi #lakonlangka

Bagong ngamuk mergo enek sing ngalangi lakune nindakne dawuhe semar noyontoko

248138
1602
50
03:07:17
24.03.2022

#ndowernggleleng #ndower_nggleleng #kisenonugroho #wayangkulit

"Kudeta" 17 Oktober 1952, Awal Terpecahnya Pertahanan Negara

722
19
0
00:06:05
17.10.2021

17 Oktober 1952 menjadi salah satu hari bersejarah bagi Indonesia. Perlawanan sejumlah perwira TNI AD terhadap Presiden Soekarno. Mereka mendesak pembubaran parlemen bahkan meriam pun dihadapkan ke istana Presiden. Selengkapnya hanya di channel Kronik Rons, semoga bermanfaat. Salam Sejarah! Gambar dalam video: KITLV Tropen Museum Delpher dpr.go.id TNI AD Naskah: Anis Fatimah Video Editor: Reni Mardiani Narator: Reni #TNI #kudeta #parlemen #MPR #DPR #Soekarno

KISAH HERU ATMODJO YG DIPERINTAH OLEH OMAR DANI UNTUK JEMPUT SOEPARDJO DARI ISTANA DG HELIKOPTER

24736
177
101
00:06:40
31.05.2022

G30spki G30s Pki Cgmi HMI Himpunan mahasiswa Islam Masukin Psi Partai sosialis indonesia Gestapu Gestok Ahmad yani Heru Atmodjo Brigjen soepardjo Penculikan di rumah ahmad yani Ah nasution Basuki rahmat Soekarno Soeharto Pancasila Nasakom Bambang Widjanarko Maulwi saelan Mangil Bambang widjanarko Mt haryono Bandar Betsy Letda Soedjono Kapitalis birokrat Dewan jenderal Mas Titodharmo haryono R. Soeprapto Moersjid Gedung penas Dn aidit Tjakrabirawa Cakrabirawa Lubang buaya Pahlawan revolusi Siswondo Parman S parman Mayor subardi Mayor Bardi ajudan Ahmad yani Sarwo Edhi Wibowo Rpkad Biografi pahlawan Amelia yani Nasakom Angkatan kelima Soegandhi Brigjen Soepardjo Cenko 1 Cenko 2 Basuki rahmat Di pandjaitan D i pandjaitan Brigjen soepardjo Herman sarens soediro Donald isaac pandjaitan Omar Dani Omar dhani Djamin gintings Junus samosir Jamin Ginting Jamin gintings SOEBANDRIO Subandrio Pranoto reksosamoedra Waluyo PKI Pono PKI Mayor sudjono Lettu Dul arief Letkol untung Likas tarigan Mayjen pranoto Siswondo Parman S Parman Brigjen Ashari Moersjid Mt haryono Soeprapto Pancasila heroe atmodjo Sjam kamaruzaman Mayor Bardi Mayor subardi Dark Star by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Death of Kings 2 by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Dangerous by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 The Angels Weep by Audionautix is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Artist: 🤍

MATERI SEJARAH XII : SUSUNAN KABINET DEMOKRASI LIBERAL

867
72
7
00:19:37
26.09.2020

Video ini membahas susunan Kabinet Demokrasi Liberal mulai dari Kabinet Natsir, Kabinet Sukiman, Kabinet Wilopo, Kabinet Ali Sastroamidjojo I, Kabinet Burhanuddin Harahap, Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Secara terperinci akan diulas perdana menteri yang berkuasa pada saat itu, partai politik pendukungnya, peristiwa penting yang terjadi dan akhir masa pemerintahan.

BRIEFING SOEHARTO YG MENGAJAK WADANYON 454 PARA DAN 530 PARA UNTUK KEMBALI BERGABUNG DG KOSTRAD

9985
87
45
00:07:15
15.06.2022

G30spki G30s Pranoto reksosamoedro Njoto Bambang soepeno Basuki rachmat MH Lukman Muhammad hakim Lukman Sakirman Soedisman Jasir HADIBROTO Yasir hadibroto Pki Gestapu Gestok Ahmad yani Penculikan di rumah ahmad yani Ah nasution HUT PKI ke 45 Basuki rahmat Bintang MAHAPUTERA dn aidit Soekarno Dn aidit Soeharto Mt haryono Mas Titodharmo haryono R. Soeprapto Moersjid Tjakrabirawa Sutoyo siswomihardjo Nani nurrachman Ibrahim adjie Nani Sutoyo SOETOYO siswomihardjo Mung parhadimulyo Cakrabirawa Lubang buaya Benny Moerdani Sarwo Edhi Wibowo Sarwo edhi Pahlawan revolusi Siswondo Parman S parman Biografi pahlawan Amelia yani Nasakom Angkatan kelima Soegandhi Basuki rahmat Di pandjaitan D i pandjaitan Herman sarens soediro Donald isaac pandjaitan Omar Dani Omar dhani Djamin gintings Junus samosir Brigjen soepardjo My haryono My harjono Jamin Ginting Yoga SOEGOMO Ali moertopo Ali murtopo Jamin gintings SOEBANDRIO Subandrio Untung sjamsuri Untung syamsuri Kolonel Abdul latief Likas tarigan Mayjen pranoto Siswondo Parman Sjam kamaruzaman S Parman Brigjen Ashari Moersjid Mt haryono Soeprapto Pancasila Dark Star by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Death of Kings 2 by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Dangerous by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 The Angels Weep by Audionautix is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Artist: 🤍

KEHEBOHAN SEMUA ORANG SAAT MENCARI DIMANA KEBERADAAN PRESIDEN PADA 1 OKTOBER 1965 PAGI

2327
40
25
00:05:35
24.06.2022

G30spki G30s Pranoto reksosamoedro Njoto Murad aidit Bambang soepeno Heru Atmodjo Heroe atmodjo Basuki rachmat MH Lukman Muhammad hakim Lukman Sakirman Soedisman Ratna Sari Dewi Dewi soekarno Jasir HADIBROTO Yasir hadibroto Pki Gestapu Brigjen Soepardjo Soepardjo Gestok Ahmad yani Penculikan di rumah ahmad yani Ah nasution HUT PKI ke 45 Basuki rahmat Bintang MAHAPUTERA dn aidit Soekarno Dn aidit Soeharto Mt haryono Mas Titodharmo haryono R. Soeprapto Moersjid Tjakrabirawa Sutoyo siswomihardjo Maulwi saelan Nani nurrachman Ibrahim adjie Nani Sutoyo SOETOYO siswomihardjo Mung parhadimulyo Cakrabirawa Lubang buaya Manggil soekarno Benny Moerdani Sarwo Edhi Wibowo Sarwo edhi Pahlawan revolusi Siswondo Parman S parman Biografi pahlawan Amelia yani Nasakom Angkatan kelima Soegandhi Basuki rahmat Di pandjaitan D i pandjaitan Herman sarens soediro Donald isaac pandjaitan Omar Dani Omar dhani Djamin gintings Junus samosir Brigjen soepardjo My haryono Ali moertopo My harjono Jamin Ginting Yoga SOEGOMO Ali moertopo Ali murtopo Jamin gintings SOEBANDRIO Subandrio Jusuf muda dalam Untung sjamsuri Untung syamsuri Kolonel Abdul latief Likas tarigan Soejono PPP auri Mayjen pranoto Siswondo Parman Suwondo parman Sjam kamaruzaman S Parman Brigjen Ashari Moersjid Umar wirahadikusimah Mt haryono Soeprapto Pancasila Dark Star by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Death of Kings 2 by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Dangerous by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 The Angels Weep by Audionautix is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Artist: 🤍

Biography: T.B. Simatupang

228
4
0
00:09:46
18.09.2020

Letnan Jenderal TNI Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang adalah seorang tokoh militer di Indonesia. T.B. Simatupang pernah ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada tahun 1950.

Tragedi G30S/1965, Terlibatkah Soeharto dalam Peristiwa itu???

112461
949
476
00:18:24
21.08.2021

Roudhoh Chanel adalah chanel sejarah seputar tahun 1965 dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya. Sejarah yang selama ini disembunyikan oleh orde baru, kita kupas disini dengan mengambil dari sumber-sumber yang kredibel dan kompeten. #BeraniJujurHebat #Sejarah1965 * Copyright Disclaimer : - Under section 107 of the Copyright Act of 1976 - Every Video, Audio, Footage, Image etc in this content under terms of Fair Use, Permitted by Copyright Statute. - Every Content in this Channel for purpose such as Education, News Report, interpretation etc. *

Santigi Jumbo bahannya subur dan super😎

7532
56
16
00:05:00
24.06.2021

bahan santigi jumbo lokasi makassar

Purnawirawan AURI Mengungkap Tragedi G30S

101711
940
535
00:18:41
14.04.2021

Roudhoh Chanel adalah chanel sejarah seputar tahun 1965 dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya. Sejarah yang selama ini disembunyikan oleh orde baru, kita kupas disini dengan mengambil dari sumber-sumber yang kredibel dan kompeten. #BeraniJujurHebat #Sejarah1965 * Copyright Disclaimer : - Under section 107 of the Copyright Act of 1976 - Every Video, Audio, Footage, Image etc in this content under terms of Fair Use, Permitted by Copyright Statute. - Every Content in this Channel for purpose such as Education, News Report, interpretation etc. *

Den Baguse Ngraso keno PRANKKK

47484
495
50
01:17:38
15.05.2021

PEMBELAJARAN DARING MENGENAL PAHLAWAN NASIONAL "JENDERAL BESAR SUDIRMAN"

748
1
0
00:52:53
13.12.2021

Jenderal Sudirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia.Jenderal Sudirman, adalah seorang ulama. Jenderal Sudirman dikenal sebagai pahlawan nasional yang memiliki latar belakang priyayi.Jenderal Sudirman merupakan salah satu pahlawan Indonesia, jasa-jasanya sangat dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Besar Sudirman merupakan salah satu orang yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan AH Nasution. #pembelajarandaring#jenderalsudirman#pahlawannasional#panglimabesar#jenderalbesar Sumber: 🤍

LIVE Wayang Kulit Dalang Suparno Krembung Sidoarjo-Lakon Lahire POLOSORO Full Video

20657
131
15
02:54:49
01.09.2021

Kesenian Asli jawa timur yg wajib kita lestarikan -wayang kulit-ludruk-seni tayub Dll #WayangKulit #KiSuparno #Paradisc -semoga menjadi Hiburan dan bermanfaat

Terkuak! Alasan Orde Baru Menuduh Soekarno Terlibat G30S PKI

57685
1194
445
00:20:26
24.02.2022

Sasaran PKI adalah Presiden Soekarno, tapi kenapa justru malah Soekarno yang dituduh terlibat dalam G-30S PKI? Inilah pertanyaan yang sering muncul. Berikut ini dihadirkan video tentang beberapa sebab asal muasal munculnya alibi kenapa Bung Karno dijadikan tahanan rumah oleh Orde Baru. Video ini hanya untuk memperkaya wawasan sejarah saja. Source: 🤍 Tukang Kliping merupakan channel khusus untuk orang yang open minded, yang menyajikan informasi dengan kemasan unik, menarik, menggelitik, heboh, bahkan mengangkat yang jarang dipersoalkan dan dipertanyakan ulang di masyarakat hingga bersifat tabu, mulai dari politik, ekonomi, sosial dan budaya yang diambil dari berbagai sumber kredibel terpercaya yang sudah ditelisik terlebih dulu untuk disajikan sebagai bahan tontonan penambah wawasan, pengetahuan serta hiburan. ►Subscribe agar berwawasan luas karena mengetahui banyak hal dan bantu sebarkan ke yang lain. Klik di sini 🤍 Media Sosial Tukang Kliping : ►Facebook : 🤍 ►Twitter : 🤍 ►Instagram : 🤍 FAIR-USE COPYRIGHT DISCLAIMER * Copyright Disclaimer Under Section 107 of the Copyright Act 1976, allowance is made for "fair use" for purposes such as criticism, commenting, news reporting, teaching, scholarship, and research. Fair use is a use permitted by copyright statute that might otherwise be infringing. Non-profit, educational or personal use tips the balance in favour of fair use. 1)This video has no negative impact on the original works 2)This video is also for share history and news purposes. 3)It is not transformative in nature. Tukang Kliping does not own the rights to these images, videos and audio files. They have, in accordance with fair use, been repurposed with the intent of news or information. However, if any content owners would like their images removed, please contact us by email at situkangkliping🤍gmail.com

Назад
Что ищут прямо сейчас на
Mayor Bambang Supeno copy ios рост корней aram mafia стимулятор корней Поставить твердотельный Undeground 2 корни рост Нюкем автомеханники пмж сша Swiss paryo Madalina Badea осколок прошлого bunga bank halal Lag Issue In FIlmora X Dropshipper pemula купить ноутбук для удаленки Prog rock sifu 2nd boss