Rpkad

Rpkad смотреть последние обновления за сегодня на .

Pertempuran sengit pasukan RPKAD vs pasukan G30S (PKI) paska pembunuhan jenderal AD

579192
3153
434
00:06:46
14.09.2019

Pidato Men/Pangau Laksdya. Omar Dani yang  dinilai memihak G 30 S oleh pihak TNI AD, memunculkan anggapan bahwa para pelaku G 30 S membawa para jenderal yang telah diculik ke pangkalan udara Halim Perdanakusumah. Keadaan semakin genting ketika muncul isu bahwa markas Kostrad yang berada di Jl. Medan Merdeka Timur akan dibom oleh pesawat TNI AU, sehingga markas Kostrad dikosongkan dan pasukan RPKAD bermaksud menyerang Halim. Rencana penyerangan Halim diketahui Omar Dhani karena Mayjen. Soeharto menelpon Waperdam Leimena dan meminta Bung Karno  ( yang sedang berada di Halim sehubungan istana dikepung pasukan liar ) keluar dari tempat tersebut. Omar Dani beranggapan akan kacau jika pasukan AU melawan, maka ia bermaksud terbang ke PAU Iswahyudi bersama Pangkoops AU Komodor Udara Leo Watimena. Di dalam pesawat Hercules, Omar Dani memerintahkan Leo mengirim radiogram yang akan disampaikan ke Mayjen. Soeharto, agar pasukan RPKAD tidak usah masuk ke Halim karena tidak ada pasukan G 30 S disana. Tapi Leo yang temperamental membuat radiogram yang terkesan menantang dengan kalimat :”AD jangan masuk ke Halim. Kalau masuk ke Halim akan dihadapi.” Juga tanpa Omar Dani ketahui, Leo meminta bantuan pesawat yang sudah dipersenjatai  untuk menghadapi RPKAD yang didatangkan dari Malang. Kejadian menegangkan lainnya yang berkaitan dengan sikon pada waktu itu adalah pesawat yang ditumpangi Laksda. Sri Mulyono Herlambang ( menteri negara diperbantukan presiden ) yang akan mendarat di Halim setelah pulang dari Medan, ditembaki oleh pihak AD tapi tidak kena. Rupanya pesawat tersebut dikira oleh AD hendak membom markas Kostrad. Pangkostrad Mayjen. Soeharto memerintahkan Mayor C.I. Santoso segera bergerak. Pukul 6.00 RPKAD sudah memasuki Halim. Dua anggota AU yang bermaksud mengambil senapan mereka langsung ditembak karena anggota AD tidak mau ambil resiko. Pasukan AD yang lain dari Yon 328 melucuti anggota TNI AU yang ada di Halim. Kemudian Kol. Sarwo Edhie, komandan RPKAD yang menyusul hendak masuk Halim, tertahan oleh tembakan pasukan Yon 454 / Raiders Jawa Tengah ( pihak G 30 S ), sehingga seorang pengawal Sarwo Edhie gugur. Mayor C.I. Santoso yang mendengar berita tersebut segera beranjak dari Halim ke tempat kontak senjata, dan ketika lewat di desa Lubang Buaya melihat banyak massa dan tentara yang membongkar tenda secara tergesa – gesa, kemudian lari melihat pasukan yang dibawa Mayor C.I. Santoso. Hal ini membuat kecurigaan di pihak RPKAD tentang massa dan tentara di Lubang Buaya tersebut. Ternyata massa dan tentara inilah yang melakukan penculikan terhadap para jenderal. Sementara itu Deputi Operasi Men. Pangau Komodor Udara Dewanto dan ajudan beliau Kapten Udara Kundimang merasa cemas dengan adanya pertempuran RPKAD dan Yon 454, karena peluru nyasar bisa merusak peswat terbang bahkan menimbulkan korban di rumah sekitar pangkalan Halim. Dewanto berhasil menemui komandan Yon 454 Raider, yaitu Kapten Koentjoro, dan menyuruhnya menghentikan tembakan. Lalu Dewanto menulis surat untuk untuk Sarwo Edhie yang disampaikan Kundimang bersama seorang anggota PGT sambil membawa bendera putih. Surat diterima Mayor Goenawan dari RPKAD, Kundimang disuruh kembali dan menunggu. Setelah Kundimang kembali ke tempat Dewanto dan menunggu sekitar 1 jam, terdengar suara ledakan. Rupanya panser RPKAD yang hendak memberi jawaban dan mendatangi Dewanto disangka mau menyerang sehingga ditembak bazooka walau akhirnya meleset. Kundimang dan anggota PGT kembali mendatangi RPKAD, tiba – tiba terdengar desingan peluru berkaliber besar disusul ledakan, rupanya Yon 454 masih gatal menembakkan senjata anti tank. Setelah bertemu Gunawan, kemudian Kundimang disuruh menjemput Dewanto dengan mobil  RPKAD untuk dipertemukan dengan Sarwo Edhie. Kundimang balik kembali menemui Dewanto. Dewanto yang menerima berita dari Kundimang segera menyuruh Koentjoro untuk pergi dari Halim, Mulanya Koentjoro berkeras. "Pasukan Raiders tidak mengenal menyerah", katanya. "Saya tidak minta Kapten menyerah. Saya minta agar pasukan Kolonel Sarwo Edhie diberi jalan masuk ke Halim", jawab Dewanto. Ternyata Koentjoro bersama pasukannya menyingkir ke Lubang Buaya. Dewanto lalu menemui Sarwo Edhie, dan mengajaknya untuk masuk Halim. Sesampainya di Halim, Sarwo Edhie mengutarakan maksudnya, ia berhasil diyakinkan bahwa di Halim tidak ada pasukan  G 30 S. Adapun CI Santoso dapat mempercayai ucapan Sri Mulyono Herlambang bahwa TNI AU tidak akan membom markas Kostrad.   Sarwo Edhie kemudian bermaksud untuk melapor pada Mayjen. Soeharto. Laskda Sri Moeljono Herlambang  mengajak Sarwo Edhie untuk ikut naik helikopter ke Istana Bogor, untuk menemui Bung Karno yang akan bertemu dengan para pimpinan tentara, kemungkinan Soeharto juga ada di Bogor. Ternyata di Bogor hanya ada Soekarno, dan sekembalinya dari sana Sarwo Edhie melapor pada Soeharto yang kemudian memerintahkan pasukan RPKAD mundur dari Halim.

Soeharto dan Sarwo Edhie - Parade Pasukan RPKAD 1967

16627
233
48
00:04:04
31.01.2022

Februari 1967

Cerita Menegangkan Saat Pasukan RPKAD Memberhentikan Mobil Presiden Soekarno

43609
356
148
00:06:46
08.04.2022

Cerita Menegangkan Saat Pasukan RPKAD Memberhentikan Mobil Presiden Soekarno Ini cerita yang benar-benar menegangkan saat pasukan RPKAD memberhentikan mobil Presiden Soekarno. Peristiwa ini terjadi pada bulan Maret 1966, saat Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar telah keluar. Ketika itu, PKI atau Partai Komunis Indonesia (PKI) pun telah dibubarkan oleh Letjen Soeharto, Menteri Panglima Angkatan Darat saat itu dengan bekal Supersemar yang dipegangnya. Suasana saat itu benar-benar tegang. Demontrasi marak di mana-mana di Ibukota Jakarta. Nyaris setiap hari terjadi. Situasi ekonomi juga tengah morat-marit. Apalagi situasi politik, tensinya begitu tegang. Dikutip dari buku, "Sejarah Surat Perintah 11 Maret 1966," yang disusun Saleh A Djamhari,  Amrin Imran,  Ariwiadi, Sutopo Sutanto dan  Susanto Zuhdi, pada pagi hari tanggal 18 Maret 1966, ada pemandangan yang tidak biasa. Pagi itu, jalan di sekitar Air Mancur Jalan Thamrin. Budi Kemulyaan, Merdeka Barat dan Merdeka Selatan, Hotel Duta Indonesia atau  Duta Merlin, Jalan Nusantara, Jalan Pintu Air, Jalan Katedral dan Pejambon dipenuhi oleh satuan-satuan tentara. Satuan tentara yang berjaga pagi itu adalah satuan dari RPKAD, Batalyon Siliwangi Kujang, Kesatuan Kaveleri. dan Batalyon F/Diponegoro.  Semua satuan tentara yang berjaga dalam kondisi siap tempur. Senjata terkokang siap tembak. Situasi makin tegang, karena di beberapa perempatan jalan juga nampal tank-tank dan panser-panser. Tentu saja, kehadiran tank-tank dan panser-panser makin menambah tegang situasi. Setiap mobil atau kendaraan yang melintas diperiksa dengan ketatnya. Sekitar pukul 09.00 pagi, dari arah Istana Merdeka, keluar rombongan mobil. Ternyata, rombongan mobil itu adalah rombongan mobil Presiden Soekarno yang hendak pergi ke Istana Bogor. Rombongan mobil ini dikawal oleh sepasukan dari Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden yang bersenjata lengkap. Di sekitar Air Mancur, rombongan mobil Presiden Soekarno ini diberhentikan oleh pasukan RPKAD yang sedang berjaga. Mobil pun, meski sudah diberi tahu bahwa itu mobil Presiden tetap diperiksa. Tapi akhirnya, mobil rombongan Presiden Soekarno diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan. Saat diperiksa, situasi memang benar-benar tegang. Karena baik pasukan Cakrabirawa yang mengawal Presiden Soekarno maupun pasukan RPKAD yang berjaga, semuanya menentang senjata dan dalam kondisi siap tempur. Akhirnya rombongan Presiden Sukarno melanjutkan perjalanan. Julius Pour dalam buku, "Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang, "juga menceritakan situasi menegangkan saat RPKAD memberhentikan rombongan mobil Presiden Soekarno berdasarkan Kesaksian dari Letkol Mangil Martowidjojo, Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang merupakan bagian dari Cakrabirawa. Menurut kesaksian Mangil, ketika itu dia yang memimpin pasukan pengawal Bung Karno menuju Istana Bogor. Mobil rombongan Presiden Soekarno kata Mangil, diberhentikan pasukan RPKAD di dekat Air Mancur, Jalan Medan Merdeka Barat. Mangil masih ingat, pasukan RPKAD yang memberhentikan rombongan Bung Karno ini dipimpin oleh seorang Kapten. "Bapak berada di mobil nomor dua, paling depan jip DKP, nomor tiga mobil yang saya naiki dan ditutup oleh jip DKP. Begitu konvoi berhenti, sesuai prosedur, semua anak buah saya langsung berhenti melindungi mobil bapak sambil melepas kunci pengaman senjata," kata Mangil dalam buku, "Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang." Ketika itu, menurut kesaksian Mangil, pasukan pengawal Presiden Soekarno bersenjatakan senapan otomatis AR-15. Sementara RPKAD kebanyakan menyandang senjata AK-47. Ketika itu memang suasana begitu menegangkan. Menurut Mangil, ia pun sudah memegang senjata siap tembak. Sampai kemudian terdengar suara dari Kapten RPKAD yang memberhentikan rombongan mobil Presiden Soekarno. "Stop, ini rombongan siapa?" teriak kapten RPKAD itu. Mendengar itu, Mangil langsung menjawab dengan suara lantang. "Kalau Kapten melihat bendera di mobil kedua, sebagai perwira ABRI harusnya tahu. Ini konvoi resmi Presiden Republik Indonesia." Tapi, Kapten RPKAD tetap ngotot bahwa mobil harus diperiksa. "Tetap harus diperiksa." Mendengar jawaban Kapten RPKAD ini, Mangil langsung menyela dengan sengitnya. "Silakan. Tetapi, sebelum kapten bergerak maka kami harus tembak lebih dulu. Sebab tanggung jawab kami sebagai DKP jelas tidak pernah mengizinkan perjalanan Presiden RI terhalang." Tapi akhirnya, pasukan RPKAD mempersilahkan rombongan Presiden melanjutkan perjalanan. Padahal, menurut Mangil, jika terjadi insiden, ia dan pasukannya sudah siap. Kunci senjata telah dibuka. Siap tembak. #soekarno #rpkad #cakrabirawa

Prajurit Kopassus (RPKAD) zaman dulu di Jakarta tahun 1966

17221
159
22
00:01:26
01.10.2019

Prajurit Kopassus (dulu RPKAD) berpatroli di Jakarta pada tahun 1966

Tegang, Beginilah Suasana di Markas RPKAD Usai Informasi Penculikan Para Jenderal Diterima

135440
1004
146
00:06:11
17.04.2022

Tegang, Beginilah Suasana di Markas RPKAD Usai Informasi Penculikan Para Jenderal Diterima Ini yang terjadi di Markas RPKAD di Cijantung Jakarta Timur setelah laporan penculikan Jenderal Ahmad Yani diterima. Seperti diketahui mengutip artikel berjudul, " Dalam Labirin 1 Oktober 1965," yang dimuat situs sociopolitica, laporan tentang peristiwa penculikan Jenderal Ahmad Yani diterima Komandan RPKAD waktu itu Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dari Mayor Subardi, salah satu Ajudan Jenderal Ahmad Yani. Pada pagi buta, 1 Oktober 1965, Mayor Subardi mendatangi rumah dinas Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo di Cijantung. Sembari menangis, Mayor Subardi melaporkan jika Ahmad Yani telah ditembak dan dibawa sekelompok tentara yang menyatroni rumah Menteri Panglima Angkatan Darat itu pada dini hari 1 Oktober 1965. Setelah mendapat keterangan dari Mayor Subardi, Kolonel Sarwo Edhie pun segera berganti pakaian dari pakaian tidur dengan pakaian siap tempur. Pagi itu, setelah menerima laporan dari Mayor Subardi, Sarwo Edhie dengan cepat menyimpulkan bahwa Letjen Ahmad Yani lebih dari sekedar ‘dalam bahaya’. Kolonel Sarwo juga langsung menganalisa bahwa apa yang terjadi dengan atasannya itu ada hubungannya dengan PKI. Sebab, dari Jenderal Ahmad Yani sendiri beberapa waktu sebelumnya, Kolonel Sarwo Edhie dapat gambaran tentang sikap bermusuhan PKI terhadap Angkatan Darat yang dibarengi rangkaian sepak terjang yang agresif. Meski pun Sarwo pagi itu belum punya petunjuk apapun tentang keterkaitan PKI, ia sudah mengambil kesimpulan ke arah itu. Analisa dan kesimpulan pada pagi itu yang mendorong Sarwo Edhie memutuskan untuk segera mengambil tindakan. Maka, tanpa membuang waktu lagi, Kolonel Sarwo langsung menelpon Komandan Batalion I RPKAD Mayor Chalimi Imam Santosa yang tinggal beberapa blok dari rumah dinasnya. Rumah CI Santosa juga ada di kompleks Cijantung. Pagi itu, dengan pakaian siap tempur dan dengan pistol di pinggang Kolonel tiba di kediaman Mayor CI Santosa. Begitu bertemu dengan anak buahnya, Sarwo Edhie langsung menanyakan posisi pasukannya. Ternyata pasukan CI Santosa berada di Parkir Timur Stadion Senayan, karena akan mengikuti gladi resik dalam rangka persiapan Hari ABRI 5 Oktober 1965. Pasukan RPKAD tersebut, meski bersenjata lengkap, namun tak dibekali peluru. Mendengar itu, Kolonel Sarwo Edhie pun memerintahkan Mayor Santosa segera menarik pasukannya kembali ke Cijantung. Saat itu, personil RPKAD yang berada di Cijantung terbatas, terutama karena sebagian berada di daerah perbatasan dengan Malaysia atau ditempatkan di daerah lainnya. Mendapat perintah komandannya, Mayor CI Santosa segera meluncur ke Senayan. Mayor CI Santosa tiba di Senayan tepat pukul 06.00. Tiba di Senayan, Mayor CI Santosa langsung mengumpulkan seluruh anggota Batalion I RPKAD. Setelah itu memerintahkan pasukannya untuk segera naik truk. Lalu bergerak kembali ke Cijantung. Ketika itu, seorang Laksamana Muda Angkatan Laut yang menjadi koordinator pasukan-pasukan yang dipersiapkan untuk acara di Senayan muncul dan mempertanyakan ada apa dan hendak ke mana pasukan RPKAD dibawa. Tapi Mayor Santosa menghindar dengan sopan lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat. Di tengah perjalanan truk yang membawa pasukan RPKAD dari Senayan berpapasan dengan sebuah truk perbekalan yang dikirim Sarwo Edhie. Truk ini berisi amunisi. Maka, di tengah jalan Mayor CI Santosa segera membagi-bagikan peluru kepada pasukannya. Sejak saat itu, pasukan RPKAD yang berkekuatan beberapa kompi tersebut sudah dalam keadaan siap tempur. Tiba di Markas RPKAD Cijantung, pasukan Batalyon 1 RPKAD langsung berkumpul di lapangan. Bergabung dengan kompi dari Batalion 3 RPKAD yang berasal dari Jawa Tengah yang tiba beberapa waktu sebelumnya. Pasukan Batalyon 3 RPKAD ini sebenarnya disiapkan untuk berangkat ke daerah perbatasan Malaysia dalam konfrontasi dengan Malaysia. Rencananya mereka akan diterjunkan di Kalimantan Barat. Namun keberangkatannya tertunda belasan jam karena masalah angkutan udara yang belum tersedia. Tidak hanya itu, selain pasukan dari Batalyon 1 dan 3, pagi itu terdapat pula sejumlah personil yang terdiri dari instruktur dari Batujajar yang akan ikut dalam kegiatan Hari ABRI. Setelah semua pasukan terkumpul Mayor CI Santosa langsung memberikan briefing ringkas. Dalam briefingnya, Mayor CI Santosa mengatakan dengan tegas, bahwa tak ada satu pun anggota pasukan yang boleh bergerak tanpa perintah darinya. "Saya akan menembak yang melanggar perintah” begitu briefing singkat dari Mayor CI Santosa.

Kisah Pasukan RPKAD Menangkap Mayor Pembunuh Kolonel Katamso di Boyolali

156475
943
199
00:06:09
20.04.2022

Kisah Pasukan RPKAD Menangkap Mayor Pembunuh Kolonel Katamso di Boyolali Ini sepenggal cerita dari operasi penumpasan G30S PKI di Jawa Tengah dan sekitarnya. Seperti diketahui, pada pertengahan Oktober 1965, setelah berhasil menumpas Gerakan 30 September di Jakarta, pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pasukan elit yang kini bernama Kopassus diperintahkan Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto untuk bergerak ke Jawa Tengah. Pasukan RPKAD diperintahkan Mayjen Soeharto untuk membantu Pangdam Diponegoro Brigjen Suryosumpeno membersihkan kelompok pendukung Gerakan 30 September di Jawa Tengah. Maka, dengan dipimpin langsung oleh Komandannya, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, pasukan baret merah ini langsung bergerak ke Jawa Tengah. Tiba di Jateng, Sarwo Edhie langsung melaporkan kedatangannya kepada Brigjen Suryosumpeno. Setelah itu Sarwo Edhie memimpin langsung operasi penumpasan G30S PKI di provinsi tersebut. Nah, mengutip skripsi berjudul," Peranan Sarwo Edhie Wibowo dalam Penumpasan Gerakan 30 September 1965 di Jakarta dan Jawa Tengah, " yang disusun Gandhi Ramadhan diceritakan sepenggal cerita dari operasi penumpasan yang dilakukan pasukan RPKAD di Boyolali Jawa Tengah. Ketika itu, Boyolali termasuk daerah basisnya pendukung PKI. Bahkan Bupati Boyolali,  Suali Dwidjo S adalah pendukung PKI. Ketika itu, saat Brigjen Suryosumpeno bisa kembali menguasai kendali Kodam Diponegoro yang sebelumnya sempat lumpuh, karena banyak perwira yang mendukung G30S PKI, keadaan jadi berbalik. Para perwira yang mendukung G30S PKI pun kocar kacir melarikan diri. Beberapa menyerahkan diri. Nah, salah satu perwira yang melarikan diri itu adalah Mayor infanteri Mulyono. Mayor Mulyono tak lain adalah Kepala Seksi (Kasi) Korem 72/Pamungkas. Dia adalah perwira yang memerintahkan penculikan terhadap Danrem Pamungkas Kolonel Katamso dan Kepala Stafnya Letkol Sugiyono. Mayor Mulyono pula yang memerintahkan pembunuhan terhadap Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono. Kedua petinggi Korem Pamungkas itu dibunuh dengan keji di daerah Kentungan, Jawa Tengah. Setelah keadaan berbalik apalagi saat pasukan RPKAD sudah tiba di Jateng, Mayor Mulyono pun berusaha melarikan diri. Boyolali jadi pilihannya untuk tempat sembunyi. Gandhi Ramadhan dalam skripsinya yang berjudul,"Peranan Sarwo Edhie Wibowo dalam Penumpasan Gerakan 30 September 1965 di Jakarta dan Jawa Tengah," menceritakan, pada 18 Oktober 1965, sebuah mobil Jeep telah datang dan berhenti di depan rumah Lurah Karanggeneng. Karanggeneng sendiri adalah satu kelurahan yang ada di Boyolali. Tidak lama setelah itu, dari dalam mobil turun seorang pria berbaju kecoklatan dengan wajah ditutupi saputangan. Selain itu bagian kepala di atas mata dan kaki kanannya dibalut menggunakan kain. Ketika itu salah satu Anggota polisi lalu lintas, Brigadir Polisi Sarimin yang rumahnya ada di depan rumah Lurah tersebut melihat itu semua. Brigadir polisi Sarimin melihat langsung pria mencurigakan itu masuk ke dalam rumah lurah yang diketahui bernama Tjitrosudarmo. Brigadir Polisi Sarimin juga melihat ada empat orang yang mengawalnya pria tersebut. Salah satu dari yang mengawal dilihatnya menyerahkan tas yang dibawa ke dalam rumah. Setelah itu keempat pengawal tersebut kembali ke mobil. Lalu mobil tersebut kembali bergerak meninggalkan rumah lurah. Karena curiga, Brigadir Polisi Sarimin segera melaporkan yang barusan dilihatnya kepada atasannya. Sarimin yakin jika orang berbaju coklat dengan muka ditutupi saputangan itu adalah gembong G30S yang lagi dicari. Sarimin melaporkan itu semua kepada Komandan Polisi Resort Boyolali, Kompol R Sujoto. Setelah itu Kompol Sujoto langsung menuju ke pos polisi militer Boyolali. Bersama dengan Pelda Satinum, Kompol Sujoto menghadap Komandan Distrik Militer 0724. Lalu melaporkan semuanya kepada Dandim. Dapat laporan seperti itu, tak menunggu lama Dandim 0724 memerintahkan agar dilakukan operasi penangkapan. Maka operasi penangkapan pun dilakukan. Sebanyak 6 anggota polisi militer Boyolali dikerahkan. Dalam operasi penangkapan itu, juga ikut 5 anggota RPKAD dan 9 anggota kepolisian. Ketika digerebek, benar saja orang yang dicurigai itu ada dalam rumah. Dia ternyata adalah Mayor Mulyono, perwira pendukung G30S PKI yang sedang diburu. Ketika disergap, Mayor Mulyono sedang tertidur. Sementara pemilik rumah yakni lurah Karanggeneng, Tjitrosudarmo tidak ada di dalam rumah. Diketahui dia rupanya sudah pergi ke Solo. Dalam penangkapan Mayor Infanteri Mulyono ditemukan barang bukti berupa tas yang berisi pakaian, sepucuk pistol FN 46 dengan 30 butir peluru, surat-surat, dan uang 25 ribu rupiah. Setelah itu Mayor Mulyono langsung digelandang ke pos polisi militer. Kelak, setelah diajukan ke Mahkamah Militer Luar Biasa di Yogyakarta, Mayor Mulyono divonis hukuman mati. Ia mati dieksekusi regu tembak. #g30spki #rpkad #kopassus

Suplai Logistik Disita RPKAD, Pasukan Yon 454 Raider Pendukung G30S Kelaparan di Halim

83605
630
225
00:07:18
14.03.2022

Ini sekelumit cerita saat pasukan Yon 454 Raiders Diponegoro yang mendukung G30S kelaparan, karena suplai logistik disita pasukan RPKAD. Pasukan Yon 454 Raiders Diponegoro atau dikenal sebagai Batalyon Banteng Raiders Diponegoro ini adalah pasukan pemukul. Ini pasukan elitnya Kodam Diponegoro dengan kualifikasi raider. Ketika peristiwa G30S PKI meletus di Jakarta, pasukan ini terseret dalam peristiwa besar tersebut. Kala itu, ketika peristiwa G30S PKI meletus, pasukan Yon 454 Raiders Diponegoro sedang ada di Ibu Kota Jakarta. Yon 454 ada di Jakarta untuk persiapan mengikuti hari ulang tahu ABRI yang akan dilaksanakan pada 5 Oktober 1965. Namun kemudian oleh komandannya, Mayor Sukirno, pasukan Yon 454 disalahgunakan untuk mendukung Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung Syamsuri. Oleh pentolan G30S, pasukan Yon 454 sempat diperintahkan untuk menjaga sekitar Monas dan Istana Negara. Mereka disiagakan di sana, dengan perintah untuk mengamankan Presiden Soekarno dari upaya kudeta yang akan dilakukan Dewan Jenderal. Paska terjadinya penculikan enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Yon 454 Kodam Diponegoro dan Yon 530 Raiders dari Kodam Brawijaya yang disiagakan di sekitar Monas coba ditarik ke Markas Kostrad. Dua Wadanyon pasukan itu lantas menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, karena Komandan masing-masing pasukan tak ada di tempat. Kala itu yang jadi Wadanyon 454 adalah Kapten Kuntjoro, sementara Wadanyon 530, Kapten Soekarbi. Di Kostrad, saat sudah menghadap Pangkostrad, dua Wadanyon itu oleh Mayjen Soeharto diberi penjelasan bahwa isu kudeta Dewan Jenderal itu tak benar. Justru yang melakukan kudeta adalah Gerakan 30 September pimpinan Letkol Untung Syamsuri. Mayjen Soeharto juga menegaskan akan menumpas gerakan Letkol Untung. Mayjen Soeharto pun meminta agar dua pasukan itu segera merapat ke Kostrad paling lambat pukul enam sore. Jika sampai pukul enam sore tak masuk ke Markas Kostrad, Mayjen Soeharto mengultimatum akan menghancurkannya. Setelah dapat ultimatum itu, hanya pasukan Yon 530 dari Kodam Brawijaya yang merapat ke Kostrad. Sementara pasukan Yon 454 dengan dipimpin Wadanyon Kapten Kuntjoro justru memilih menyingkir ke wilayah Halim Perdanakusuma dengan maksud mencari komandannya Mayor Sukirno. Sejarah pun mencatat, pada tanggal 2 Oktober 1965, pasukan Yon 454 terlibat kontak tembak dengan pasukan RPKAD yang mengawal Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo yang hendak memasuki wilayah Halim. Tapi karena upaya Komodor Dewanto, seorang perwira tinggi AURI, kontak tembak bisa dihentikan. Pasukan Yon 454 sepakat untuk menyingkir dari wilayah Halim. Rupanya, setelah itu mereka kelaparan. Dalam buku," Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional," Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi mengungkapkan, pasukan Yon 454 kekurangan makanan, karena suplai logistik dipotong oleh pasukan RPKAD yang diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menguasai Halim. Ketika itu, pada pagi hari, 2 Oktober 1965 Sersan Mayor Sudiono dari Kompi Benhur Yon-1/RPKAD menahan dua truk yang membawa makanan. Makanan yang disita tersebut selanjutnya dibagikan kepada anggota Kompi Benhur Yon-1/RPKAD. "Di lain pihak Yon 454 Raiders yang tinggal berkekuatan sekitar 1 kompi karena sebagian lainnya memilih menyerah ke Kostrad, sudah dalam keadaan lemah, bergerak tanpa dukungan logistik maupun amunisi, dan tanpa peta," tulis Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi. Sore sebelumnya, Wadanyon Yon 454 Raiders, Kapten Kuntjoro menghadap Kolonel Wisnu, seorang perwira AURI yang bertugas di Pangkalan Halim Halim meminta izin untuk memasuki Halim. Tapi permintaan itu ditolak oleh Kolonel Wisnu. Permintaan untuk meminjam peta topografi kawasan pangkalan yang diajukan Kapten Kuntjoro juga ditolak. "Kapten Kuntjoro ternyata juga lepas kontak dengan Mayor Sukirno, atasannya langsung, dan G30S yang menjadi induknya seolah-olah telah bubar," tulis Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi dalam buku," Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional." Ternyata, kata Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi, saat itu, di waktu yang sama di Lubang Buaya, para pimpinan G30S tengah berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya, Mayor Sukirno Danyon 454 Raiders ikut hadir dengan sebagian pasukannya. Begitu juga Mayor Infanteri Bambang Supeno, Danyon 530/Raiders Brawijaya juga ikut hadir tapi tanpa pasukan. Pimpinan G30S yang hadir ketika itu antara lain Letkol Untung, Brigjen Soepardjo, Sjam, Kolonel Latief dan tokoh G30S lainnya. Menurut Ambarwulan dan Aminuddin Kasdi, diskusi berlangsung lama tanpa keputusan. Terjadi perdebatan dalam diskusi itu. Brigjen Soepardjo meminta agar komando gerakan militer diberikan kepadanya. Kata Soepardjo, wewenang itu akan dikembalikan kepada Letkol Untung, setelah situasi dapat diatasi.

Tawuran Cakrabirawa dan RPKAD (Kopassus) Bikin Jakarta Geger

374359
2145
435
00:06:25
20.10.2021

Tukang Kliping membawakan informasi sejarah ketika tawuran berdarah Tjakrabirawa/Cakrabirawa dan RPKAD (Kopassus) bikin geger Jakarta. Resimen Cakrabirawa dibentuk 21 Juni 1962 untuk menjaga keselamatan Presiden Soekarno. Banyak keistimewaan pasukan elite yang dibentuk dari gabungan empat angkatan ini. Salah satunya, Cakrabirawa bukan berada di bawah Markas Besar TNI, tetapi langsung di bawah presiden. Anggaran operasionalnya pun langsung ditangani rumah tangga kepresidenan. Seragam Tjakrabirawa dibuat sedikit kecoklatan dengan baret warna merah bata. Berbeda dengan pakaian organik TNI saat itu. Banyak yang tidak suka dengan penampilan Tjakrabirawa. Sebagian anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) misalnya, mereka merasa Tjakrabirawa tak layak mengenakan baret merah. Maklum, bertahun-tahun baret merah identik dengan RPKAD yang sudah menorehkan prestasi di berbagai palagan. Setelah latihan, anggota RPKAD belajar menyetir mobil. Entah siapa yang memulai tiba-tiba kedua satuan elite ini saling ejek. Source: 🤍 Tukang Kliping merupakan channel khusus untuk orang yang open minded, yang menyajikan informasi dengan kemasan unik, menarik, menggelitik, heboh, bahkan mengangkat yang jarang dipersoalkan dan dipertanyakan ulang di masyarakat hingga bersifat tabu, mulai dari politik, ekonomi, sosial dan budaya yang diambil dari berbagai sumber kredibel terpercaya yang sudah ditelisik terlebih dulu untuk disajikan sebagai bahan tontonan penambah wawasan, pengetahuan serta hiburan. ►Subscribe agar berwawasan luas karena mengetahui banyak hal dan bantu sebarkan ke yang lain. Klik di sini 🤍 Media Sosial Tukang Kliping : ►Facebook : 🤍 ►Twitter : 🤍 ►Instagram : 🤍 FAIR-USE COPYRIGHT DISCLAIMER * Copyright Disclaimer Under Section 107 of the Copyright Act 1976, allowance is made for "fair use" for purposes such as criticism, commenting, news reporting, teaching, scholarship, and research. Fair use is a use permitted by copyright statute that might otherwise be infringing. Non-profit, educational or personal use tips the balance in favour of fair use. 1)This video has no negative impact on the original works 2)This video is also for share history and news purposes. 3)It is not transformative in nature. Tukang Kliping does not own the rights to these images, videos and audio files. They have, in accordance with fair use, been repurposed with the intent of news or information. However, if any content owners would like their images removed, please contact us by email at situkangkliping🤍gmail.com

Begini Suasana Kepanikan Para Pentolan G30S PKI Saat RPKAD Mulai Memasuki Kawasan Halim

41029
433
85
00:07:55
07.02.2022

Begini Suasana Kepanikan Para Pentolan G30S PKI Saat RPKAD Mulai Memasuki Kawasan Halim Begini suasana kepanikan para pentolan G30S PKI saat RPKAD mulai memasuki kawasan Halim. Suasana kepanikan dan kebingungan para pentolan G30S PKI itu digambarkan Brigjen Soepardjo dalam catatannya yang kemudian diikutip oleh Victor M Fic dalam bukunya,"Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi." Seperti diketahui, pada pagi hari, 2 Oktober 1965, pasukan RPKAD mulai memasuki kawasan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Pasukan elit TNI Angkatan Darat pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo ini diperintahkan Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto untuk menguasai Halim. Oleh Soeharto, kawasan Halim ini dianggap dijadikan basis komando kelompok G30S PKI yang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat awal Oktober 1965. Maka, pasukan RPKAD pun diperintahkan untuk membersihkan dan menguasai Halim dibantu oleh pasukan Batalyon Infanteri 328 Para Kujang dari Kodam Siliwangi. Seperti diketahui, ketika Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD akan memasuki kawasan Halim lewat jalur Pondok Gede, terlibat kontak tembak dengan pasukan Batalyon Infanteri 454 Banteng Raiders Kodam Diponegoro yang kala itu dipimpin oleh Wakil Komandannya Kapten Kuntjoro. Pada tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Yon 454 ini sebelumnya sempat dikonsentrasikan di sekitar Istana bersama dengan pasukan Yon 530 dari Kodam Brawijaya. Tapi pasukan Yon 530 memilih bergabung ke Kostrad setelah diultimatum Mayjen Soeharto. Lain halnya dengan pasukan Yon 454 yang memilih hengkang ke kawasan Halim, meski Wakil Komandannya Kapten Kuntjoro sempat menghadap Mayjen Soeharto dan diberi ultimatum yang sama agar merapat ke Kostrad. Di sekitar kawasan Halim inilah, pasukan Yon 454 terlibat kontak tembak dengan pasukan RPKAD yang mengawal Kolonel Sarwo Edhie yang akan memasuki Halim. Nah, menurut Victor M Fic dalam bukunya,"Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi," ketika terdengar bunyi serentetan tembakan dari lokasi kontak tembak, para pentolan G30S PKI sedang ada di daerah Lubang Buaya. Para pentolan G30S PKI itu antara lain Sjam, Supardjo, Latief, Sujono, Untung Syamsuri dan lain-lainnya. Pagi itu mereka menggelar rapat darurat. Suasana rapat itu digambarkan Brigjen Soepardjo dalam catatannya yang kemudian dikutip ulang Victor M Fic dalam bukunya. "Sementara itu, semua slagorde G30S telah berkumpul di Lubang Buaya. Disana sini mulai terdengar tembakan dari RPKAD yang mulai mencari kontak tembakan," kata Soepardjo dalam catatannya. Kala itu, menurut Soepardjo, Sjam, Untung dan lainnya memulai rapat untuk menentukan sikap. Dalam rapat itu, juga hadir Komandan Yon 454 dari Jateng beserta anggota batalyonnya. Hadir juga Komandan Yon 530 dari Kodam Brawijaya yang datang tanpa pasukan. Di Lubang Buaya juga masih ada sekitar 1500-an para sukarelawan. "Kurang lebih seribu lima ratus sukwan jug dilatih di Lubang Buaya melihat situasi yang gawat ini tidak ada pilihan lain bertempur mati-matian atau cepat menghilang, menyelamatkan diri," tulis Soepardjo dalam catatannya. Tapi, menurut Soepardjo, diskusi berdjalan lama tanpa keputusan. Akhirnya ia menyarankan agar seluruh komando diserahkan kepadanya, dan nanti bila situasi telah dapat diatasi, wewenang akan diserahkan kembali kepada Letkol Untung. "Kawan Untung tidak setuju, karena bertempur terus menurut pendapatnya sudah tidak ada dasar politiknnya lagi. Apa yang dimaksud dengan kata-katanya itu, kami tidak begitu mengerti," kata Soepardjo dalam catatannya. Kata Soepardjo, sementara Sjam diam saja tidak memberikan reaksi atas usulnya. Kemudian kata Soepardjo lagi, ia mendesak agar segera diambil keputusan. Bila terlambat nanti, maka semua akan terjepit dalam suatu sudut dimana tidak ada pilihan lain, melawan pun hancur dan lari pun hancur. Karena posisi G30S, kata Soepardjo dalam catatannya, pada waktu itu sudah labil. "Kemudian rapat memutuskan memberhentikan pertempuran dan setiap kawan diperintahkan kembali ketempat asal mereka masing-masing, dalam keadaan yang serba terlambat ini kemudian kami kami ambil inisiatif untuk menyelamatkan kawan pimpinan Sjam dan masuk ke kota Jakarta," kata Soepardjo dalam catatannya.

KOPASSUS (RPKAD) Disambut Masyarakat 1966

525
12
0
00:00:52
30.11.2021

Video ini berisikan gambaran situasi ketika masyarakat Indonesia menyambut kedatangan RPKAD (KOPASSUS) setelah bertugas pada tahun 1966. Produksi : Tidak diketahui, Indonesia Lokasi : Indonesia Tahun : 1966 Ini bukan vidio milik saya, saya hanya mewarnainya saja. Anda dapat membantu channel ini dengan cara subscribe dan menghidupkan lonceng, serta like video ini #1966 #dokumenterberwarna #jamandulu #tempodulu #kopassus #rpkad

Seragam Unik RPKAD Saat Tumpas G30S PKI Terjadi Tak Sengaja, Ini Kisahnya yang Jarang Terungkap

50957
374
45
00:07:45
14.12.2021

Ini cerita tentang seragam unik yang dipakai pasukan RPKAD saat terlibat dalam operasi penumpasan G30S PKI pada awal Oktober 1965. RPKAD yang dimaksud adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat, satuan pasukan elit Angkatan Darat yang sekarang bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Nah, ada cerita unik dibalik seragam militer yang dipakai pasukan RPKAD saat melibas kelompok Gerakan 30 September. Kembali ke cerita soal seragam RPKAD yang dipakai saat penumpasan G30S PKI. Seperti dilihat di film penumpasan G30S PKI yang disutradarai Arifin C Noer, pasukan RPKAD yang menumpas G30S PKI itu mengenakan seragam yang agak berbeda. Bajunya mengenakan seragam loreng khas RPKAD. Sementara celananya tak senada. Bukan celana dengan motif loreng khas RPKAD. Namun celana warna hijau tentara saja. Ternyata itu ada ceritanya tersendiri mengapa sampai seragam RPKAD seperti itu saat penumpasan G30S PKI. Cerita soal seragam unik RPKAD saat menumpas G30S PKI dikisahkan Sintong Panjaitan dalam buku,"Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando," yang ditulis Hendro Subroto. Sintong sendiri, terakhir berpangkat Letnan Jenderal, adalah pelaku langsung dalam penumpasan G30S PKI. Saat itu, Sintong adalah perwira muda RPKAD berpangkat Letda. Di RPKAD, ia masuk dalam Kompi RPKAD yang dipimpin Feisal Tanjung yang kelak jadi Panglima ABRI. Dalam buku itu, Sintong mengisahkan, sebenarnya ia dan Kompi Tanjung menjelang meletusnya G30S PKI sedang bersiap menunggu waktu berangkat diterjunkan ke Kuching Malaysia. Ketika itu tengah digaungkan Ganyang Malaysia yang digelorakan Bung Karno untuk menggagalkan pembentukan Negara Malaysia oleh Inggris. Pasukan RPKAD itu sendiri hendak diterjunkan ke Kuching Malaysia dengan disamarkan sebagai sukarelawan. Karena disamarkan sebagai sukarelawan, menurut Sintong, maka segala atribut yang menunjukan identitas sebagai pasukan reguler dihilangkan. Kala itu, Sintong dan pasukan RPKAD yang akan diterjunkan ke Kuching Malaysia didatangkan dari markas RPKAD lainnya di Kandang Menjangan Kartosuro. Selanjutnya sambil menunggu waktu pemberangkatan, pasukan RPKAD ini sementara tinggal di markas besar RPKAD di Cijantung Jakarta Timur. Maka, seragam loreng, baret merah dan segala atribut RPKAD yang biasa dipakai ditinggalkan di Kandang Menjangan Kartosuro. Sampai kemudian peristiwa G30S PKI meletus awal Oktober 1965. Setelah dapat briefing dari Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, semua Kompi RPKAD yang ada di Cijantung disiapkan untuk menumpas G30S PKI. Mereka pun dikembalikan sebagai pasukan reguler. Tapi ternyata, ada kesulitan mengenai seragam. Sebab seragam RPKAD semuanya ditinggalkan di Kandang Menjangan Kartosuro. "Peralihan fungsi sukarelawan kembali menjadi pasukan reguler secara mendadak menimbulkan masalah sebab seluruh anggota Kompi Tanjung tidak membawa pakaian dinas militer. Mereka telah meninggalkan semua pakaian dinas lapangan dengan tanda pangkat maupun segala atribut kesatuan RPKAD di asrama Kartosuro" kata Sintong dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando yang ditulis Hendro Subroto. Maka, menurut Sintong, untuk mengatasi hal itu pihak Mako RPKAD di Cijantung membagikan baju loreng dengan corak loreng khas RPKAD beserta tanda pangkat dan tanda kesatuan. Namun ternyata masih ada kesulitan lain soal celana yang dipakai. Sebab karena serba mendadak, celana loreng yang dibagikan tak semuanya sesuai atau cocok dengan ukuran celana anggota pasukan yang ada saat itu. Maka, kata Sintong, ia dan anggota Kompi Tanjung terpaksa tetap memakai celana hijau yang merupakan celana sukarelawan. Sementara atasnya memakai seragam lapangan berupa baju loreng khas RPKAD. Diputus akhirnya semua pasukan pakai seragam dengan kombinasi seperti itu. "Akhirnya pada hari itu juga seluruh anggota RPKAD diperintahkan mengenakan kombinasi pakaian seragam lapangan semacam itu," kata Sintong dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Rupanya, seragam kombinasi itu jadi perhatian Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Ia pun memutuskan untuk memakai seragam kombinasi yang sama. Sintong masih ingat Kolonel Sarwo Edhie sempat mengomentari seragam unik RPKAD itu."Bagus, dengan perpaduan antara baju loreng dengan celana hijau, mudah untuk membedakan antara RPKAD dengan kesatuan lain dari jarak jauh," begitu komentar Kolonel Sarwo Edhie yang diingat Sintong. Dalam buku yang ditulis Hendro Subroto, Sintong mengatakan, setelah operasi penumpasan G30S PKI, banyak anggota RPKAD yang kemudian berkomentar bahwa seragam kombinasi yang dipakai saat itu adalah sebagai pakaian seragam "Penumpasan G30S PKI. "Ternyata beberapa hari kemudian perpaduan antara baju loreng dengan celana hijau, menjadi mode dalam pakaian seragam militer pada waktu itu. Kostrad juga mengenakan kombinasi baju loreng Tiger Brigade dengan celana hijau. Kesatuan-kesatuan lainnya, seperti kavaleri maupun artileri juga mengikuti jejaknya," kata Sintong dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.

Berapa Banyak Kekuatan RPKAD yang Dikerahkan Tumpas G30S PKI ke Jateng? Ternyata Sebanyak Ini

20647
222
27
00:06:56
05.05.2022

Berapa Banyak Kekuatan RPKAD yang Dikerahkan Tumpas G30S PKI ke Jateng? Ternyata Sebanyak Ini Dalam buku," Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando," yang ditulis Hendro Subroto, Sintong Panjaitan banyak menceritakan keterlibatannya dalam menumpas Gerakan 30 September baik di Jakarta maupun di Jawa Tengah (Jateng). Ya, Sintong Panjaitan adalah salah satu pelaku sejarah dalam operasi penumpasan G30S PKI. Ketika itu, Sintong Panjaitan masih perwira muda RPKAD berpangkat Letda. Dalam operasi penumpasan G30S PKI, Sintong terjun langsung mulai dari merebut Gedung RRI, menguasai Pangkalan Halim Perdanakusuma, mencari sumur maut Lubang Buaya, hingga operasi penumpasan ke Jawa Tengah. Ketika itu, RPKAD, pasukan khusus baret merah yang sekarang bernama Kopassus dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Dalam buku,"Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando," Sintong bercerita, usai melaksanakan tugas di Lubang Buaya, Sintong ikut serta dalam Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban untuk membersihkan G30S/PKI beserta Dewan Revolusi/PKI di Jawa Tengah. Pada waktu itu, dalam Kompi Tanjung telah terjadi penggantian dua komandan peleton dari generasi Pejuang 1945, beralih ke lulusan AMN Angkatan 63. Kata Sintong, Komandan Peleton 2 yang semula dijabat oleh Peltu Widodo, digantikan oleh Letda Wismoyo Arismunandar. Sedangkan Peltu Sumedi Komandan Peleton 3 digantikan oleh Letda Kuntara. Sementara Komandan Peleton 1 tetap dijabat oleh Letda Sintong Panjaitan. Pergerakan RPKAD ke Jawa Tengah itu sendiri kata Sintong, dimulai pada tanggal 18 Oktober 1965. Ketika itu di tanggal tersebut, Batalyon Yon 1 RPKAD di bawah pimpinan Mayor C I Santosa diberangkatkan ke Jawa Tengah. Pasukan baret merah ini diberangkatkan ke Jawa Tengah untuk membantu Kodam VII/Diponegoro dalam melakukan Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Menurut Sintong, pertimbangan kenapa sampai Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto memerintahkan Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo untuk bergerak ke Jawa Tengah, karena Jawa Tengah memang menjadi basis yang kuat dan tumpuan harapan bagi PKI dalam melakukan pemberontakan. Selain itu penyusupan PKI ke dalam jajaran Kodam VII/ Diponegoro berjalan lancar, sesuai dengan taktik dan strategi Pada waktu itu sebenarnya Biro Khusus PKI dalam taraf mampu untuk melumpuhkan seluruh resor militer (Korem) di Jawa Tengah dan dalam taraf memiliki kemampuan menggerakkan pasukan maupun kesatuan untuk kepentingan PKI. Menurut Sintong, kekuatan Batalyon 1 RPKAD yang diberangkatkan ke Jawa Tengah terdiri dari Kompi Tanjung, Kompi Oerip, Kompi Ramelan, dan Kompi Kayat. Selain itu pasukan RPKAD yang bergerak ke Jawa Tengah juga diperkuat oleh Kompi B Yonkav 1/Panser Brikav 1 Kostrad dan satu Peleton Polisi Militer AD (Pomad) Para yang berstatus B/P. Pasukan juga disertai dengan satu unit mobil penerangan dari Departemen Penerangan. Selain itu, Batalyon 1 RPKAD juga didukung oleh satu Kompi Peralatan Angkatan Darat yang berstatus B/P untuk merawat kendaraan yang sedikitnya terdiri dari 80 truk yang masih baru, sejumlah mobil Toyota kanvas dan satu kompi kavaleri panser yang menyusul ke Semarang dengan kereta api. Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo itu sendiri berangkat mendahului Batalyon 1 RPKAD dengan menggunakan Toyota kanvas dengan dikawal oleh Peleton 1 di bawah pimpinan Sintong Panjaitan. Dalam buku," Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando," Sintong Panjaitan juga mengungkapkan, ketika RPKAD masuk ke kota Semarang, kedatangan pasukan baret merah ini langsung disambut dengan aksi massal oleh golongan nasionalis, agama, dan para pemuda dengan melakukan pembakaran gedung PKI, Gerwani, Baperki, gedung perkumpulan China Komunis CHTH atau Cunghwa Tjunghwi, sekolah-sekolah asing China komunis, dan beberapa pabrik rokok kretek pendukung G30S/PKI. Menurut Sintong aksi tersebut merupakan reaksi terhadap kekejaman PKI dan ormas-ormasnya berupa pembunuhan yang terjadi di berbagai tempat, setelah pecah pemberontakan G30S/PKI. Tiba di Jateng, oleh Sarwo Edhie, Sintong diperintahkan untuk memimpin pasukan berkekuatan satu peleton atau 36 orang. Ia ditugaskan untuk mengamankan Karesidenan Pati, Jawa Tengah yang mencakup wilayah cukup luas. Karesidenan itu membentang dari Demak, Kudus, Rembang sampai Cepu. Walaupun pada waktu itu dalam kesatuan RPKAD belum dibentuk pasukan sandiyudha, di lapangan Sintong telah menerapkan operasi sandiyudha. Berdasarkan penjelasan Pangdam VII/Diponegoro Brigjen TNI Suryosumpeno, menjelang meletusnya pemberontakan G30S/PKI, penyusupan Biro Khusus PKI dalam jajaran Kodam Diponegoro di Jateng hampir mendekati sempurna. Mayoritas Perwira Staf Kodam Diponegoro sudah berhasil dipengaruhi oleh PKI. Bahkan pada waktu itu setengah dari komandan kodim di Jawa Tengah telah berada di bawah kendali PKI. #kopassus #g30spki #rpkad

MENGERIKAN !! KISAH PERSETERUAN ANTAR 2 PASUKAN ELITE | RESIMEN PELOPOR VS RPKAD !

17360
164
122
00:09:58
29.03.2022

Suatu siang pada 1968, seorang sopir oplet mengantar seorang penumpang ke pos jaga ksatriaan pasukan paramiliter Angkatan Kepolisian, Kelapa Dua, Depok. Sopir oplet kemudian pingsan setelah membawa penumpang yang sudah tak bernyawa. Sopir oplet sempat bercerita bahwa penumpang yang dibawanya ditembak dari jarak dekat oleh anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)kini bernama Kopassus. Penumpang yang meninggal itu adalah salah satu anggota dari pasukan paramiliter kepolisian, satuan yang kala itu cukup ditakuti, yaitu Resimen Pelopor (Menpor). Seperti dicatat Anton Agus Setiyawan dan Andi M. Darlis, dalam Resimen Pelopor, Pasukan Elite yang Terlupakan (2011), anggota Menpor yang terbunuh itu berasal dari kompi F dan baru saja lulus pendidikan. Laporan terbunuhnya anggota Menpor sampai juga ke telinga Wakil Komandan Menpor, Ajun Komisaris Besar Polisi Soetrisno. #RPKAD #BRIMOB #MENPOR #KOPASSUS

Paska G30S, Letjen KKO Hartono siagakan pasukan penggempur RPKAD

10037
94
53
00:03:40
18.06.2020

Letjen KKO Hartono siagakan 30.000 pasukan siap tempur sambil menunggu komando Soekarno. Namun komando yg ditunggu tidak kunjung datang krn Soekarno tidak mau ada perang saudara.

Kata Prajurit RPKAD, Maaf Jenderal Kami Hanya Menjalankan Tugas

293893
1275
154
00:05:25
12.12.2021

Ini kisah yang jarang terungkap saat prajurit RPKAD duduki Pangkalan Halim Perdanakusuma. RPKAD yang dimaksud adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat, satuan pasukan elit Angkatan Darat yang sekarang bernama Kopassus atau Komando Pasukan Khusus. Sementara AURI adalah Angkatan Udara Republik Indonesia atau sekarang dikenal dengan nama TNI Angkatan Udara. Ketika itu baru saja  peristiwa pemberontakan G30S PKI meletus di Jakarta awal Oktober 1965 yang diikuti oleh pengumuman Letkol Untung Syamsuri lewat RRI mengenai Gerakan 30 September dan Dewan Revolusi. Setelah itu ada aksi balasan yang dimotori Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto untuk melibas kelompok G30S itu. Operasi penumpasan pun dengan cepat dilakukan. Tulang punggungnya adalah pasukan RPKAD dan pasukan Batalyon 328 Para dari Siliwangi. Setelah berhasil menguasai gedung RRI dan gedung telekomunikasi, pasukan penumpas G30S lantas dikerahkan untuk menguasai pangkalan udara Halim Perdanakusuma dan Pelabuhan Udara Internasional Kemayoran. Mengutip buku, " Menyingkap Kabut Halim 1965,  pasukan yang dikerahkan untuk menyerbu ke Pangkalan Halim adalah pasukan RPKAD di dukung satu Kompi  pasukan Yon-328/Para. Menurut buku,"Menyingkap Kabut Halim 1965," saat pasukan RPKAD mulai memasuki Pangkalan Halim,  satu Kompi Yon-328/Para yang melakukan stelling di dekat PN Intirub melucuti senjata anggota AURI yang masuk pangkalan.  Kompi Yon-328/Para itu didukung oleh satu Kompi Yonkav-1/Panser Kostrad yang terdiri  dari Scout Car Ferret dan APC FV 603 Saracen.  Kendaraan tempur yang dikerahkan ini bisa memuat  10 prajurit infanteri. Mereka, menempati posisi di Jakarta Bypass, dekat Pangkalan Halim. Mereka bersiaga siap tempur sampai pertigaan Hek menuju Pondok Gede. Pasukan yang dikerahkan Mayjen Soeharto tak hanya bergerak ke Pangkalan Halim. Tapi juga ada yang dikerahkan ke Pelabuhan Udara Internasional Kemayoran yang menjadi pangkalan Skadron 12 dengan pesawat MiG-17 dari Wing 300 Buru Sergap Komando Pertahanan Udara. Pasukan yang dikerahkan ke Kemayoran berasal dari Batalyon Kavaleri 7 Kostrad. Sekitar pukul enam pagi, pasukan RPKAD sudah memasuki dan menduduki Halim. Nah, ada cerita menarik saat pasukan RPKAD sudah menguasai Pangkalan Halim Perdanakusuma. Dalam bukunya,"Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965 : Melihat peristiwa G30S dari Perspektif Lain," James Luhulima mengisahkan, sekitar 06.45 pagi pesawat Cessna L-180 yang diterbangkan oleh Komodor Udara Dewanto, seorang perwira tinggi AURI mendarat di Halim. Komodor Udara Dewanto sendiri kala itu sedang menjabat sebagai Deputi Menteri Panglima Angkatan Udara Bidang Operasi. Begitu sudah mendarat, pesawat pun lantas diparkir. Menurut James Luhulima dalam bukunya, begitu melihat ada pesawat mendarat dari arah hanggar Skadron Teknik, tiga orang prajurit  RPKAD langsung bergerak cepat ke arah pesawat. Begitu sudah dekat, mereka langsung menodongkan senapan serbu AK 47 yang dibawanya. "Jangan bergerak" begitu kata para prajurit RPKAD itu kepada awak pesawat Cessna.  Sampai kemudian, Komodor Dewanto keluar dari pesawat. Melihat yang keluar dari pesawat itu seorang perwira tinggi AURI, ketiga prajurit RPKAD itu sempat memberi hormat dengan cara  menyilangkan senapan serbu AK-47 di depan dada dan menepuk popor senapan sebagai tanda memberi hormat. Tapi kemudian mereka kembali bersiaga. "Maaf jenderal, kami menjalankan tugas. Semua senjata harus kami tahan. Pistol jenderal tidak perlu diserahkan, tetapi pistol ajudan harus diserahkan," kata seorang Sersan Mayor RPKAD yang tadi menodongkan senjata AK-47nya. Saat itu, Kapten Udara Kundimang tangannya sudah  bergerak kearah pistol di pinggangnya dengan maksud untuk menyerahkan senjata. Tapi, Sersan Mayor RPKAD itu langsung mencegah. "Jangan pak, biar kami yang mengambil pistol bapak," kata Sersan Mayor RPKAD itu. Setelah itu, Komodor Udara Dewanto dan Kapten Udara Kundimang dipersilakan masuk ke hanggar Skatek. Menurut James Luhulima,  suasana di dalam hanggar tampak tenang. Beberapa anggota AURI sedang ngobrol santai dengan pasukan RPKAD.

PERTEMPURAN SENGIT RPKAD VS YON 454 BANTENG RAIDER DI HALIM

1237
23
3
00:05:06
21.04.2022

Ini adalah cuplikan film peristiwa G30S/PKI, yang menggambarkan adanya pertempuran hebat antara pasukan RPKAD melawan Yon 454 Banteng Raider, di sekitaran Lanud Halim Perdana kusuma, jakarta. Peristiwa ini terjadi pada hari sabtu, 2 Oktober 1965. Satuan Banteng Raiders atau BR merupakan satuan tempur andalan Divisi Diponegoro yang dibentuk pertengahan tahun 1950-an, dan turut serta menumpas pemberontakan Darul Islam di perbukitan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, dengan sandi Gerakan Banteng Nasional atau GBN dalam operasinya.  Sedangkan RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat adalah satuan elit TNI AD yang menjadi cikal bakal Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Pertempuran antara dua pasukan elit ini terjadi dikarenakan RPKAD yang saat itu berada dibawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi, diperintahkan oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menguasai Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, yang dianggap sudah dalam pengaruh komunis atau PKI. - TAGGAR INFOKOMANDO : #TNI #Militerindonesia #Pasukankhususindonesia #Alutsista #Videomiliter #Specialforces #Operasirahasia #Infokomando #Duniamiliter #KapalperangTNI #Infomiliter #Seputarduniamiliterindonesia #Komandoindonesia #Beritamiliter #Militerindonesia #G30SPKI #RPKAD #BANTENGRAIDER - JARINGAN MEDIA SOSIAL INFOKOMANDO : Link Instagram 🤍 Link Facebook 🤍 Link Twitter 🤍 Website 🤍 -

Kopassus RPKAD mengejar Gembong PKI Letkol Untung ❗️❗️❗️Sejarah Seru - Sejarah Indonesia - Soekarno

168171
2338
228
00:09:07
29.04.2022

(SINOPSIS) Pengejaran Letkol Untung oleh Kopassus RPKD dan kembali direbutnya RRI ke tangan pemerintah Indonesia oleh Kopassus Disclaimer : Konten ini merupakan "historical fiction" dimana creator menambahkan dialog untuk tokoh rekaan yang dirasa masih sejalan dengan sejarah yang terjadi. Selamat mendengarkan, jangan lupa gunakan headset ya 🎧🎧🎧 Voice Over : 🤍budikristanda 🤍ve_brisix 🤍rane 🤍pradiptanugrahanto 🤍bangodi Jangan lupa subscribe, tinggalkan komentar dan share: 🤍 Bisa juga didengarkan di platform lainnya: 🤍 🤍 Kenalan lebih dekat sama kami disini ya: 🤍 🤍 🤍 Tim Produksi: Producer: 🤍 Director: 🤍 Social Media: 🤍 Website: 🤍 #serubelajar #letkoluntung #untung Daftar Pustaka : Saksi dan pelaku Gestapu : pengakuan para saksi dan pelaku sejarah Gerakan 30 September 1965 / koordinator, Surya Lesmana ; periset data, Floriberta Aning. Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando: Sintong Panjaitan. Pengarang, Hendro Subroto. EDISI, Cet. ke-8. Penerbitan, Jakarta Kencana 2009. Prabowo titisan Soeharto? mencari pemimpin baru di masa paceklik ; Femi Adi Soepeno (-) · Felicianus, J. (-) · Book · ind · Yogyakarta : Galangpress , 2008. Benny : tragedi seorang loyalis / Julius Pour, Author: Julius Pour, Publisher:Jakarta : Kata, 2007. Sukarno, tentara, PKI: segitiga kekuasaan sebelum prahara politik, 1961-1965 Sarwo Edhie dan tragedi 1965 / Peter Kasenda, Author: Peter Kasenda, Publisher:Jakarta : Buku Kompas, 2015 Mengincar Bung Besar: tujuh upaya pembunuhan Presiden Sukarno / Tim Majalah Historia. Supersemar palsu : kesaksian tiga jenderal /, Author: Pambudi, A, Publisher:Yogyakarta : Media Pressindo, 2006., KESAKSIAN TENTANG BUNG KARNO 1945-1967 ; H. MANGIL MARTOWIDJOJO (-) · ind · JAKARTA PT GRASINDO , 1999 · BIOGRAFI KEPALA NEGARA. Pengakuan Algojo 1965: Investigasi TEMPO Perihal Pembantaian 1965. Kesaksian wakil komandan tjakrabirawa dari revolusi 45 sampai kudeta 66 ... Book. oleh Maulwi Saelan , Haji Terbitan: Yayasan Syifa Budi, 1992.. Kesaksianku tentang G-30-S / Dr. H. Soebandrio SENAKATHA, No : 19 0ktober 1994. ISSN 0852-0771

Halim Diserbu RPKAD, Para Pentolan G30S PKI Kocar-kacir Melarikan Diri

7734
114
16
00:07:48
22.04.2022

Tahu Pangkalan Halim Perdanakusuma diserbu RPKAD, para pentolan G30S PKI panik lalu kocar kacir melarikan diri. Mengutip buku, "Karel Sadsuitubun," yang ditulis Frans Hitipeuw, pada 1 Oktober 1965, sekitar pukul 18.00, para pentolan G30S yang ketika itu masih berkumpul di rumah Sersan Udara Anis Suyatno di Kompleks Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, mulai gamang dan resah, setelah tahu Pangkostrad Mayjen Soeharto melakukan aksi penumpasan gerakan. Mereka makin panik, setelah didengar kabar pasukan Yon 530  dari Kodam Brawijaya bergabung ke Kostrad. Sementara pasukan Yon 454 Banteng Raider Kodam Diponegoro mundur ke wilayah Pangkalan Halim. Bergabungnya pasukan Yon 530 Brawijaya memukul moral para pentolan G30S.  Apalagi Brigjen Soepardjo sudah dapat kabar jika Pangkostrad Mayjen Soeharto akan mengerahkan pasukan RPKAD untuk menyerbu Halim. Mereka makin panik lagi, ketika lewat tengah malam sudah diterima laporan jika Gedung RRI dan kantor besar telekomunikasi yang sebelumnya dikuasai kelompoknya telah direbut RPKAD.  Ketika itu, para pentolan G30S PKI seperti Sjam, Letkol Untung Syamsuri, Kolonel Latief, Brigjen Soepardjo, dan Mayor Sujono sudah mulai menyimpulkan jika gerakan mereka kemungkinan akan gagal. Seperti dikutip dari buku, "Karel Sadsuitubun," para pentolan G30S itu akhirnya mengambil keputusan pasukan-pasukan G 30 S PKI akan mundur ke daerah pemunduran terakhir yaitu Pondok Gede. Mereka juga mendiskusikan soal keselamatan DN Aidit dan memikirkan bagaimana caranya agar Aidit  bisa terus memimpin partai dan melanjutkan perjuangan. Ketika itu Sjam berpendapat, kalau Aidit mundur bersama-sama mereka ke Pondok Gede akan berbahaya. Karena itu Sjam menyarankan agar DN Aidit terbang ke Yogyakarta.  Selesai pembicaraan Sjam dan Mayor Udara Suyono lantas menemui Aidit. Keduanya  melaporkan kesimpulan-kesimpulan yang dicapai dalam pembicaraan dengan para pemimpin pelaksana G 30 S PKI. Mendengar itu, Aidit memerintahkan untuk tetap mengadakan perlawanan dan meneruskan perjuangan. Sjam pun meminta Aidit segera berangkat ke Yogyakarta. Tujuannya agar Ketua PKI itu  dapat terus memimpin dan meneruskan perjuangan PKI dari Jawa Tengah. Aidit juga mengatakan, jika saat ini  Gerakan 30 September tidak menguntungkan PKI. Karena itu ia memutuskan untuk memimpin langsung gerakan.  Setelah itu, Sjam memintakan Mayor Udara Suyono untuk mengusahakan fasilitas pesawat udara melalui Menteri Panglima Angkatan Udara Omar Dhani. Mayor Udara Suyono akhirnya berhasil mendapatkan fasilitas ini dan Aidit diterbangkan ke Yogyakarta tanggal 2 Oktober 1965 dini hari. Sebelumnya telah diadakan pembicaraan bahwa Sjam akan memimpin diskusi soal pemunduran pasukan-pasukan PKI ke Pondok Gede dari Pangkalan Halim. Pasukan juga diminta tetap mengadakan perlawanan terhadap pasukan-pasukan RPKAD yang akan menyerbu Halim. "Sebenarnya persiapan-persiapan pemunduran pasukan PKI sudah dimulai kira-kira pukul 18.00 tetapi nyatanya baru pukul 23.00 pasukan-pasukan itu secara bertahap mundur ke Pondok Gede. Sekembali Syam mengantar DN. Aidit menuju pesawat terbang, kira-kira pukul 02.00 dini hari, ia bersama-sama Brigjen Supardjo meninggalkan Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah menuju Pondok Gede dengan tujuan untuk mengatur taktik perlawanan seterusnya," tulis Frans Hitipeuw dalam buku," Karel Sadsuitubun." Kemudian, pada tanggal 2 Oktober 1965 ketika pasukan RPKAD mulai menyerbu Halim dan terdengar bunyi kontak tembak, seluruh pimpinan G30S PKI makin panik. Sekitar pukul 13.00 seluruh pimpinan G 30 S/PKI sadar dan tahu persis bahwa Gerakan 30 September telah gagal. Mereka merasa tidak bisa lagi bertahan apalagi menghadapi kekuatan RPKAD. Melihat kenyataan ini, pimpinan pelaksana Gerakan 30 September mengambil keputusan untuk menghentikan gerakan dengan jalan membubarkan pasukan-pasukan untuk seterusnya masing-masing melarikan diri.  Maka, para pimpinan pelaksana gerakan seperti Sjam, Pono, Brigjen Soepardjo pun segera meninggalkan Pondok Gede. Mereka  menuju rumah Pono  di daerah Kramat untuk menyelamatkan diri. Lalu pada siang tanggal 3 Oktober 1965,   Sjam dan Pono menghadap Sudisman di markas darurat PKI di Kayu Awet  untuk memberi penjelasan dan mempertanggungjawabkan sebab-sebab kegagalan Gerakan 30 September. Pada tanggal 6 Oktober Sjam bertemu dengan Waluyo, kurir DN Aidit yang membawa perintah Aidit untuk meneruskan perjuangan sambil menyelamatkan diri.  Atas perintah Sjam, Pono bersama Waluyo supaya melaksanakan perintah DN Aidit di daerah Jawa Tengah. Sementara perjuangan selanjutnya di Jakarta diatur oleh Suyono Pradigdo, Hamim dan Harto Suwandi. Sedangkan Sjam sendiri akan  ke Jawa Barat. 

BANTUAN KEKUATAN RPKAD UNTUK PERKUAT BASIS PENUMPASAN G30SPKI DI JAWA TENGAH

1786
33
5
00:04:41
29.06.2022

G30spki G30s Pranoto reksosamoedro Njoto Brigjen surjosoempeno Suryosumpeno Murad aidit G30spki Jawa tengah Bambang soepeno Heru Atmodjo Heroe atmodjo Basuki rachmat MH Lukman Muhammad hakim Lukman Sakirman Soedisman Ratna Sari Dewi Dewi soekarno Jasir HADIBROTO Yasir hadibroto Pki Gestapu Brigjen Soepardjo Soepardjo Gestok Ahmad yani Ah nasution HUT PKI ke 45 Basuki rahmat Bintang MAHAPUTERA dn aidit Soekarno Dn aidit Soeharto Mt haryono Mas Titodharmo haryono R. Soeprapto Moersjid Tjakrabirawa Sutoyo siswomihardjo Maulwi saelan Nani nurrachman Ibrahim adjie Nani Sutoyo SOETOYO siswomihardjo Mung parhadimulyo Cakrabirawa Lubang buaya Manggil soekarno Benny Moerdani Sarwo Edhi Wibowo Sarwo edhi Pahlawan revolusi Siswondo Parman S parman Biografi pahlawan Amelia yani Nasakom Angkatan kelima Soegandhi Basuki rahmat Di pandjaitan D i pandjaitan Herman sarens soediro Donald isaac pandjaitan Omar Dani Omar dhani Djamin gintings Junus samosir Brigjen soepardjo My haryono Ali moertopo My harjono Jamin Ginting Yoga SOEGOMO Ali moertopo Ali murtopo Jamin gintings SOEBANDRIO Subandrio Jusuf muda dalam Soekirman Sukitman Untung sjamsuri Untung syamsuri Kolonel Abdul latief Likas tarigan Soejono PPP auri Mayjen pranoto Siswondo Parman Suwondo parman Sjam kamaruzaman S Parman Brigjen Ashari Moersjid Umar wirahadikusimah Mt haryono Soeprapto Pancasila Dark Star by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Death of Kings 2 by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 Dangerous by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍 The Angels Weep by Audionautix is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. 🤍 Artist: 🤍

Komandan Minta Jenderalmu Diantar Kemari

37202
351
18
00:08:08
09.06.2022

Komandan Minta Jenderalmu Diantar Kemari Ini sekelumit cerita yang jarang terungkap dibalik pertempuran antara pasukan RPKAD dengan pasukan Yon 454 Banteng Raiders di kawasan Halim Perdanakusuma pada 2 Oktober 1965, atau sehari setelah peristiwa penculikan para jenderal terjadi pada dini hari 1 Oktober 1965. Ketika itu, pasukan RPKAD diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menguasai Pangkalan Halim Perdanakusuma karena disinyalir wilayah tersebut jadi basis kelompok Gerakan 30 September yang melakukan penculikan terhadap enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat. Nah, ketika Pangkalan Halim Perdanakusuma sudah dikuasai RPKAD, Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo berniat masuk ke Pangkalan Halim. Tapi di daerah Pondok Gede, pasukan RPKAD yang mengawalnya terlibat kontak tembak dengan pasukan Yon 454 Banteng Raiders yang dipimpin Wadanyonnya Kapten Koentjoro. Pasukan Yon 454 Banteng Raiders Kodam Diponegoro sebelumnya diperalat oleh pimpinan G30S PKI untuk bersiaga di kawasan Monas. Setelah dapat ultimatum dari Pangkostrad Mayjen Soeharto agar merapat ke Makostrad, Kapten Koentjoro justru membawa pasukannya ke daerah Halim.  Di wilayah Halim ini, pasukan Yon 454 akhirnya terlibat pertempuran dengan pasukan RPKAD yang sedang mengawal Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie yang hendak masuk ke Halim. Kontak tembak itu sendiri akhirnya bisa dilerai berkat campur tangan Komodor Udara Dewanto, seorang perwira tinggi AURI dan Ajudannya Kapten Kundimang. Keduanya yang berusaha keras mendamaikan dua pasukan yang bertempur. Dikutip dari buku,"Menyingkap Dua Hari Tergelap Di Tahun 1965 Melihat Peristiwa G 30 S dari Perspektif Lain," yang ditulis James Luhulima, setelah Kapten Kundimang berhasil menyebrang ke posisi kubu pasukan RPKAD dan menyerahkan surat dari Komodor Udara Dewanto kepada Mayor Goenawan Wibisono, seorang perwira baret merah, ia pun kembali ke posisi kubu pasukan Yon 454.  Ketika Kapten Kundimang kembali menuju ke posisi pasukan Yon 454, tidak terdengar suara tembakan. Setelah itu, Kapten Kundimang langsung menuju ke jip Nissan Patrol yang diparkir  di dekat rumah bambu. Di sana sudah menunggu Komodor Udara Dewanto, Kapten Koentjoro, dan tiga anggota Yon 454 Banteng Raiders. Kapten Udara Kundimang pun lalu  melaporkan hasil perjalanannya ke kubu pasukan RPKAD. Komodor Udara Dewanto pun  tidak mempunyai pilihan lain kecuali menunggu jawaban dari Komandan RPKAD.  "Tidak sampai satu jam kemudian, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan menggelegar yang berasal dari dua kali tembakan bazooka yang dilepaskan oleh anggota Raiders, yang segera dibalas oleh rentetan tembakan senapan mesin Browning kaliber 1,62 mm dari panser Saladin," tulis James Luhulima dalam bukunya. Setelah itu, seorang Komandan Kompi Yon 454 Raiders menghadap Komodor Udara Dewanto. Dia  melapor bahwa  anak buahnya terpaksa menembak karena ada gerakan panser yang maju. Namun, kini tembakan sudah dihentikan karena panser sudah mundur, dan mereka memasang bendera putih.  "Panser yang maju adalah Scout Car Ferret Mk 1 dari Pleton 3 Kompi B Yonkav-1/Panser Kostrad. Panser itu memasang bendera putih yang menjadi isyarat bahwa Kolonel  Sarwo Edhie Wibowo telah memberikan jawaban," tulis James Luhulima dalam bukunya. Kemudian, Kapten Koentjoro memerintahkan komandan kompi itu untuk tidak melepaskan tembakan, karena ada kurir yang mau menyeberang. Setelah itu,  Kapten Udara Kundimang dan anggota PGT kembali menyeberang ke posisi RPKAD. Tapi sesampainya mereka di sektor RPKAD, tiba-tiba terdengar desingan peluru berkaliber besar. Seorang anggota RPKAD, Kapten Udara Kundimang, dan anggota PGT langsung menjatuhkan diri tiarap. Dua tiga detik kemudian terdengar suara menggelegar. Anggota RPKAD itu kemudian berdiri, diikuti oleh Kapten Udara Kundimang dan anggota PGT yang mengawalnya.  "Itu tadi senjata anti-tank. Bapak tidak apa-apa,” kata anggota RPKAD tersebut. Kapten Kundimang tidak habis pikir, mengapa pasukan Raiders masih melepaskan tembakan lagi. Setelah tak ada bunyi tembakan, Kapten  Kundimang dan anggota PGT melanjutkan kembali perjalanan, melewati satu panser Ferret dan dua panser Saladin. Salah seorang komandan panser Saladin mengatakan, "Terus saja Pak, Komandan ada di sana.” Tampak terlihat oleh Kapten Kundimang dua APC Saracen dalam posisi siap siaga di pinggir jalan. Sekitar dua regu senapan kavaleri dan beberapa prajurit RPKAD melakukan penjagaan. Tidak lama setelah itu Mayor Goenawan Wibisono muncul. Lalu ia berkata,"Komandan minta jenderalmu diantar kemari. Komandan mau bicara." Kapten Udara Kundimang langsung menjawab.  "Baik akan saya jemput. Boleh pakai mobil?”  Simak videonya ya....

Saat DN Aidit Gagal Jadikan Kota Solo Kuburan RPKAD

34218
382
36
00:07:35
27.05.2022

Saat DN Aidit Gagal Jadikan Kota Solo "Kuburan" RPKAD  Ini cerita saat DN Aidit gagal jadikan Kota Solo kuburan RPKAD. RPKAD yang dimaksud adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat, pasukan khusus TNI yang kini bernama Kopassus. Sementara DN Aidit yang dimaksud adalah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti diketahui, saat peristiwa G30S PKI meletus lalu diikuti oleh operasi penumpasan Gerakan 30 September oleh Angkatan Darat, pasukan RPKAD yang diandalkan. Pasukan baret merah yang kala itu dipimpin Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, jadi tulang punggung operasi penumpasan G30S PKI Setelah digebuk oleh Angkatan Darat, beberapa pentolan dibalik kelompok G30S ini kocar-kacir melarikan diri. Termasuk DN Aidit yang ketika itu , saat peristiwa G30S PKI meletus ada kawasan di Halim Perdanakusuma, pangkalan udara AURI. Ketua PKI itu melarikan diri ke Yogyakarta dengan menggunakan pesawat Dakota milik AURI atas bantuan Omar Dhani, Menteri Panglima Angkatan Udara saat itu. Tiba di Yogyakarta, Aidit berpindah-pindah tempat. Dari tempat persembunyiannya Aidit coba membangun kekuatan dan menyelamatkan partainya yang dari kehancuran karena peristiwa G30S tersebut. Seperti dicatat buku," Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia," yang diterbitkan Sekretariat Negara Republik Indonesia, pada tanggal 12 Oktober 1965 di rumah Dargo, tokoh PKI kota Solo, Aidit bertemu dengan Pono dan Munir, anggota CC PKI yang baru datang dari Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, Aidit, Pono dan Munir membahas kegagalan pelaksanaan Gerakan 30 September. Menurut mereka, kegagalan G30S 8!8 akan segera membuka kedok keterlibatan PKI. Maka, keberadaan PKI untuk berjuang secara parlementer tidak mungkin lagi. Dalam pertemuan itu, Munir mengusulkan untuk melanjutkan perjuangan PKI melalui gerakan bersenjata. Ketiganya juga membahas tentang kedatangan pasukan RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo ke Jawa Tengah.  Tentu saja kedatangan pasukan RPKAD yang diperintahkan langsung Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk membersihkan pendukung G30S di Jateng bikin risau Aidit dan kawan-kawan.  Maka, setelah pasukan RPKAD memasuki Semarang, Pono dipanggil Aidit. Oleh Aidit, Pono diberi instruksi untuk menggerakkan massa bersenjata menghadapi RPKAD yang akan tiba di Solo. Tidak hanya itu Aidit juga memerintahkan Sekretaris Comite PKI Kota Solo,  Soewarno, untuk menyusun rencana pemasangan plakat-plakat yang Isinya menentang kedatangan RPKAD. Sementara  Musajid Sekretaris CDB PKI Jawa Tengah, menginstruksikan pula agar aksi-aksi tersebut dikombinasikan dengan pemogokan buruh kereta api. Selanjutnya, Bono yang telah kembali ke Jawa Tengah bersama Pono sesuai dengan instruksi Ketua CC PKI DN Aidit menghadiri sidang CDB Jawa Tengah di rumah Djoko Sumbul di Solo. Rapat itu sendiri  dihadiri oleh Pono, Bono, Musajid, Sutikno alias Salim,  Ketua Biro Khusus Jawa Tengah dan Djoko Sumbul. Pokok pembicaraan ialah bagaimana cara mengatasi situasi krisis dengan masuknya RPKAD di daerah Solo. Serta usaha untuk menyusun kekuatan fisik menghadapi situasi krisis tersebut. "Putusan sidang CDB menyatakan hal-hal berikut, pertama kerahkan massa bersenjata PKI untuk menghancurkan RPKAD dengan semboyan "Jadikan Solo Kuburan Bagi RPKAD". Kedua, bentuk komando-komando sektor dan subsektor untuk mengadakan perlawanan yang teratur. Bagi tugas untuk para pimpinan CDB dalam rangka menghadapi  gerakan operasi RPKAD, yaitu Musalid memimpin pelaksanaan gerakan di Klaten, Djoko Sumbul dan Darmo memimpin pelaksanaan gerakan di Solo.dan Bono memimpin pelaksanaan gerakan di Salatiga," tulis Sekretariat Negara Republik Indonesia dalam buku," Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia." Hasil keputusan sidang CDB itu coba direalisasikan dengan menggerakkan pemogokan di Stasiun Kereta Api Sala Balapan pada tanggal 19 Oktober 1965. Juga terjadi demonstrasi massa PKI yang berusaha menghambat gerakan pasukan RPKAD, serta serangan terhadap golongan rakyat yang anti G30S/PKI. Akibatnya, timbul korban jiwa dan kerugian materil di kalangan rakyat.  Lalu untuk menghindari operasi keamanan yang diadakan RPKAD pada tanggal 24 Oktober 1965, Pono menyingkir ke Yogyakarta. Sedangkan Bono ke Ambarawa. Pada tanggal 8 November 1965 Pono bersama Bono pindah ke rumah Darsono di Semarang. Sedangkan DN Aidit bersembunyi secara berpindah-pindah di antaranya di Desa Sambeng Solo. Sampai akhirnya pada 22 November 1965 Aidit tertangkap di Solo di sebuah rumah milik seorang kader PKI.  Aidit bisa diringkus oleh pasukan TNI AD Pimpinan Kolonel Jasir Hadibroto yang dipanggil pulang Pangkostrad Mayjen Soeharto dari perbatasan Malaysia untuk ikut terlibat langsung dalam operasi penumpasan G30S di Jateng. Alih-alih bisa menjadikan Solo sebagai kuburan RPKAD, justru Aidit yang terkubur. Dia dieksekusi mati oleh pasukan Jasir Hadibroto di daerah Boyolali. #g30spki #pki #rpkad

Ahmad Yani dan Sarwo Edhie Menyaksikan HUT RPKAD 1965

6849
104
11
00:03:18
15.01.2022

Men/Pangad Letjen Ahmad Yani dan Kolonel Sarwo Edhie menyaksikan upacara hut rpkad/kopassus 16 april 1965

Mayor RPKAD Kepercayaan Kolonel Sarwo Edhie Saat Tumpas G30S PKI

34728
245
13
00:06:36
24.12.2021

Mayor RPKAD Kepercayaan Kolonel Sarwo Edhie Kepercayaan Kolonel Sarwo Edhie Saat Tumpas G30S PKI Ternyata Perwira RPKAD ini yang merancang strategi operasi ke Halim tahun 1965. Siapa Perwira RPKAD yang merancang strategi penyerbuan ke Pangkalan Halim itu? Dia adalah Mayor CI Santosa atau yang bernama lengkap Chalimi Imam Santosa. Saat ibukota dilanda kegentingan akibat meletusnya pemberontakan G30S PKI, CI Santosa yang sudah berpangkat Mayor sedang memegang posisi sebagai Komandan Batalyon 1 RPKAD. RPKAD yang dimaksud adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat, satuan pasukan elit Angkatan Darat yang sekarang bernama Kopassus.  Seperti diketahui, saat operasi penumpasan G30S PKI digelar, RPKAD adalah pasukan yang diandalkan Mayjen Soeharto, Pangkostrad saat itu untuk menumpas kelompok G30S. Perebutan gedung RRI dan telekomunikasi yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok G30S dilakukan oleh pasukan RPKAD. Pun, operasi menduduki Pangkalan Halim Perdanakusuma juga dilakukan pasukan RPKAD. Peter Kasenda dalam bukunya, "Sarwo Edhie dan Tragedi 1965," mengisahkan detik-detik saat Mayjen Soeharto memutuskan untuk menguasai Pangkalan Halim. Menurut Peter Kasenda dalam bukunya," di tengah malam saat Mayjen Soeharto sedang memikirkan langkah penumpasan G30S  berikutnya, tiba-tiba muncul Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD.  Sarwo Edhie langsung bertanya kepada Soeharto, kepastian pelaksanaan menguasai Halim. Saat itu di ruang kerja Pangkostrad, juga ada Jenderal Abdul Haris Nasution, satu-satunya jenderal yang selamat dari upaya penculikan yang dilakukan kelompok G30S pimpinan Letkol Untung Syamsuri. Jenderal Nasution yang saat itu sedang duduk di kursi panjang langsung berkata. " Sarwo Edhie Wibowo, jij mau bikin tweede Mapanget ya?" Mendengar itu, Mayjen  Soeharto yang sedang berpikir segera  memerintahkan Sarwo Edhie Wibowo melakukan operasi penyerangan ke Halim. Soeharto juga berpesan, agar dalam penyerbuan ke Halim dihindari terjadinya pertumpahan darah dan kerusakan materil pangkalan. Kolonel Sarwo pun segera memanggil Mayor CI Santosa. Mayor CI Santosa oleh Sarwo Edhie diperintahkan untuk memimpin operasi penyerbuan ke Halim. Maka, rapat penyerbuan ke Halim pun digelar. Di hadapan para perwira tinggi yang hadir, antara lain Jenderal Nasution, Mayjen Soeharto, Brigjen  Sabirin Mochtar, dan Brigjen Sugandhi, Brigjen Yoga Sugama dan lainnya, Mayor CI Santosa memaparkan strategi penyerbuan ke Halim. Mayor CI Santosa menyarankan agar satu Kompi Yon 328 Para Kujang Siliwangi dan  satu Kompi Tempur Yonkav-8 melakukan manuver di Jakarta bypass untuk memancing agar pertahanan di Pangkalan Halim Perdanakusuma tertuju ke barat atau ke arah kota. Sementara pasukan RPKAD akan bergerak menuju ke Klender, kemudian masuk ke Halim dari arah timur dan utara. Saran itu diterima oleh Sarwo Edhie Wibowo dan para perwira tinggi lainnnya. Mayor CI Santosa juga menjelaskan kenapa strategi itu dipilih. Kata Mayor CI Santosa, penyerangan dari arah selatan memiliki risiko karena jalan antara Bogor ke Jakarta terdapat markas Brimob, Kavaleri, Kopur Linud dan Pomad yang secara keseluruhan belum diketahui secara pasti di pihak mana mereka berada. Maka, serangan yang paling aman dilakukan dari arah Klender. Sesuai rencana, pada pukul 03.00 pagi WIB, satu Kompi Yon 328 Para Kujang Siliwangi yang berada di bawah pimpinan Garnizun Ibu Kota didukung oleh satu Kompi Tempur Yonkav-8/Tank dan satu Kompi Tempur Yonkav 1/Panser Brigade Kavaleri-I/Kostrad di bawah pimpinan Komandan Brikav Kolonel  Kavaleri Wing Wiryawan bergerak menuju ke Jakarta Bypass.  Sementara Mayor CI Santosa langsung menyiapkan 5 kompi pasukan RPKAD  untuk menyerang ke Halim. Lima kompi RPKAD ini terdiri Kompi Oerip yang dikenal sebagai Kompi Ben Hur, Kompi Heru Sisnodo, Kompi Faisal Tanjung dan Kompi Muhadi. Sedangkan Kompi Kayat sebagai Kompi Cadangan. Anggota Kompi Kayat sendiri sebagian besar dikumpulkan dari mereka yang bertugas administrasi. Setelah itu Mayor CI Santosa memberi briefing pada pasukan. Kata Mayor Santosa,  penyerbuan ke Halim Perdanakusuma akan dilakukan secara serentak dan mendadak. Posisi penghentian bagi  kompi pada titik yang ditetapkan di atas peta pun telah ditentukan.  Dalam briefing itu, Mayor CI Santosa juga menjelaskan dengan tegas dan singkat sasaran yang dituju tiap kompi, seraya mengingatkan pasukan yang akan bergerak menyerbu Halim untuk menghindari pertumpahan darah dan menghindari kerusakan lokasi  sasaran seperti hanggar, pesawat dan fasilitas pangkalan lainnya. Ia juga memerintahkan agar ban pesawat semuanya dikempeskan supaya pesawat tidak dapat tinggal landas. Setelah dapat briefing, 5  kompi Yon 1 RPKAD pun  berangkat dari Markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka Timur menuju ke Klender lewat Patung Tani, Senen, dan Jatinegara. Setibanya di Klender, tiap-tiap Kompi RPKAD langsung  bergerak ke titik yang telah ditentukan dengan berjalan kaki.

Pertempuran Kopassus (RPKAD) VS PKI (cakrabirawa)

50081
425
152
00:04:46
12.07.2020

PASCA peristiwa Gerakan 30 September 1965, terjadi pembantaian massal terhadap anggota, simpatisan, dan orang-orang yang dituduh PKI. Bahkan, orang-orang yang tidak terkait dengan PKI pun, seperti kaum nasionalis atau Sukarnois, juga menjadi korbannya. Jumlah korban yang diumumkan oleh tim penyelidik Fact Finding Commision, sebanyak 78.000 orang. Share video ini kepada siapapun rakyat indonesia. Bantu kembangkan dengan like dan subcribe. #jasmerah #pki #g30spki #komunis #pemberontakan #penghianat #kemerdekaan #merdeka #indonesia #nkri #paluarit #jendral #lubangbuaya

GERTAKAN MAYOR C.I. SANTOSA BILA ADA PASUKAN RPKAD DI CIJANTUNG BERKHIANAT BERGERAK TANPA PERINTAH

26233
172
21
00:03:03
24.01.2022

G30S G30Spki Pki Rpkad Pasukan rpkad Sarwo edhi wibowo Sarwo edi Ci santosa Ci santoso Ahmad yani Soeharto Brigjen soepardjo Batalion 1 rpkad Pahlawan revolusi Gestapu Gestok Ah nasution Biografi pahlawan Tjakrabirawa Cakrabirawa Kuching malaysia Konfrontasi malaysia Dwikora Lubang buaya

PASUKAN RPKAD KOPASSUS ARAHKAN B4Z00K4 KE MARKAS KKO MARINIR

304625
1925
454
00:12:34
10.12.2020

Pasukan KKO Marinir pernah terlibat b3ntr0k dengan pasukan RPKAD Kopassus. Cek Website Kami 🤍 Like FB Kami 🤍 Follow IG Kami 🤍

HUT RPKAD tahun 1965

88559
565
38
00:01:00
15.07.2018

Men/Pangad LetJend Ahmad Yani sebagai inspektur upacara dalam HUT RPKAD tgl 16 april 1965. Dalam video nampak Kol.Sarwo Edhie

Pagi 1 Oktober yang Menegangkan, Peluru untuk Pasukan RPKAD Pun Dibagikan di Tengah Jalan

3279
72
13
00:05:32
29.04.2022

Pagi 1 Oktober 1965 yang Menegangkan, Peluru untuk Pasukan RPKAD Pun Dibagikan di Tengah Jalan Pagi hari 1 Oktober 1965, pasukan baret merah dari Batalyon 1 RPKAD benar-benar kebingungan, ketika tiba-tiba komandan batalyon mereka Mayor CI Santosa datang ke Senayan dengan wajah tegang. Begitu datang, Mayor CI Santosa langsung memerintahkan anak buahnya segera naik truk. Mereka diminta balik kandang. Balik ke markas mereka di Cijantung. Terang saja pasukan RPKAD ini kebingungan. Sebab mereka baru saja tiba di Parkir Timur Senayan. Pagi itu, rencananya mereka akan ikut gladi resik perayaan hari jadi ABRI. Tapi tiba-tiba komandan mereka memerintahkan untuk kembali ke markas. Karena yang memerintahkan adalah komandan batalyon, pasukan RPKAD itu pun langsung bergegas ke truk dengan tujuan kembali ke markas di Cijantung. Saat pasukan RPKAD sudah naik truk, seorang laksamana muda angkatan laut yang menjadi koordinator pasukan-pasukan yang dipersiapkan untuk acara di Senayan muncul. Dia bingung dan heran, kenapa pasukan yang baru datang disuruh kembali naik truk. Laksamana muda angkatan laut ini pun sempat menanyakan kepada Mayor CI Santosa kenapa pasukan RPKAD ditarik lagi. Tapi dengan sopan, Mayor CI Santosa coba menghindar. Tidak lama setelah itu, truk yang membawa pasukan RPKAD itu pun menderu meninggalkan Parkir Timur Senayan kembali ke Cijantung. Di tengah jalan, belum sampai ke Markas RPKAD, truk yang membawa pasukan baret merah dari Senayan berpapasan dengan truk RPKAD lainnya. Truk yang berpapasan pun berhenti. Rupanya, truk yang datang dari arah Markas RPKAD itu datang membawa berpeti-peti peluru. Truk yang membawa peluru itu pun menyusul atas perintah dari Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Lalu, peluru pun dibagikan ke seluruh pasukan RPKAD yang masih dalam kebingungan. Maka, pagi itu, seluruh pasukan RPKAD yang kembali dari Senayan sudah dalam keadaan siap tempur. Setelah semua peluru dibagikan, truk yang membawa pasukan RPKAD pun kembali melanjutkan perjalanan menuju markas mereka di Cijantung. Tiba di markas, semua pasukan diperintahkan untuk berkumpul di lapangan merah yang ada di komplek Markas RPKAD. Mereka pun bergabung dengan pasukan RPKAD lainnya yang baru saja di datangkan dari Jawa Tengah. Rencananya pasukan RPKAD yang di datangkan dari Jawa Tengah ini hendak berangkat ke perbatasan Malaysia. Tapi, belum juga berangkat, mereka tiba-tiba disiagakan dalam kondisi siap tempur di lapangan. Setelah semua pasukan baret merah berkumpul, Mayor CI Santosa langsung memberikan briefing singkat. Dalam briefingnya, Mayor Sentosa menginstruksikan bahwa tak ada satu pun anggota pasukan yang boleh bergerak tanpa perintah darinya. Jika ada yang bergerak, ia akan menembaknya sendiri. Suasana pun tambah tegang. Tidak lama setelah itu, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo yang tampil berbicara di depan pasukan. Di depan pasukan RPKAD, Sarwo Edhie menerangkan secara singkat tentang apa yang telah terjadi pada hari itu. Kata Sarwo Edhie pada anak buahnya, sejumlah jenderal Angkatan Darat telah diculik pada dinihari tadi. Nasib mereka belum diketahui. Juga belum jelas oleh siapa atas perintah siapa, lalu dibawa ke mana dan bagaimana nasibnya para jenderal. Kepada seluruh pasukan RPKAD, Sarwo memerintahkan untuk siap siaga dan waspada karena belum jelas siapa kawan dan lawan. Begitulah ketegangan yang terjadi pada pagi 1 Oktober 1965. Saling tegangnya situasi saat itu, peluru pun sampai dibagikan di tengah jalan. Rupanya, sebelum memerintahkan Mayor CI Santosa untuk menarik kembali pasukan RPKAD yang sudah terlanjur pergi ke Parkir Timur Senayan, pagi itu, saat suasana masih remang-remang, Sarwo Edhie didatangi Mayor Subardi, salah satu Ajudan Jenderal Ahmad Yani. Pada Sarwo Edhie, sambil menangis, Mayor Subardi melaporkan jika Ahmad Yani telah diculik sekelompok tentara. Atas laporan dari Mayor Subardi itulah, Sarwo Edhie langsung mengontak Mayor CI Santosa, Komandan Batalyon 1 RPKAD yang rumahnya tak jauh dari rumah dinasnya. Lalu memerintahkan agar Mayor Sentosa menarik kembali pasukan yang sudah pergi ke Senayan. Tidak hanya itu, karena pasukan RPKAD yang pergi ke Senayan belum dibekali peluru, Sarwo Edhie juga memerintahkan agar dikirim truk yang membawa peluru. Truk pembawa peluru yang diperintahkan Sarwo Edhie pun akhirnya berpapasan dengan truk pembawa pasukan RPKAD dari Senayan. Dan peluru pun dibagikan di tengah jalan. #rpkad #kopassus #baretmerah

Saat Baret Merah RPKAD (Kopassus) Harus Melawan Dukun Kebal

649627
2405
471
00:06:56
19.10.2017

Saat Baret Merah RPKAD (Kopassus) Harus Melawan Dukun Kebal Saat Baret Merah RPKAD (Kopassus) Harus Melawan Dukun Kebal Saat Baret Merah RPKAD (Kopassus) Harus Melawan Dukun Kebal Follow and Subscription : Untuk Suscribe : 🤍 Mohon "Like" untuk update : 🤍 Follow kami di : 🤍 Dragon and Toast by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution license (🤍 Source: 🤍 Artist: 🤍

Mayjen Ibrahim: "Saya tidak ingin ada pembant4ian di Jawa Barat"

56073
506
197
00:05:21
16.03.2021

Roudhoh Chanel adalah chanel sejarah seputar tahun 1965 dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya. Sejarah yang selama ini disembunyikan oleh orde baru, kita kupas disini dengan mengambil dari sumber-sumber yang kredibel dan kompeten. #BeraniJujurHebat #Sejarah1965 * Copyright Disclaimer : - Under section 107 of the Copyright Act of 1976 - Every Video, Audio, Footage, Image etc in this content under terms of Fair Use, Permitted by Copyright Statute. - Every Content in this Channel for purpose such as Education, News Report, interpretation etc. *

Nyaris Saja Helikopter yang Akan Bawa Bung Karno Ditembak Prajurit RPKAD, Ini Kisahnya

8657
66
9
00:05:24
07.03.2022

Nyaris Saja Helikopter yang Akan Bawa Bung Karno Ditembak Prajurit RPKAD, Ini Kisahnya Ini sekelumit cerita saat nyaris saja helikopter yang bawa Bung Karno ditembak prajurit RPKAD. Cerita ini terjadi pada 11 Maret 1966. Kala itu, di Istana Negara sedang digelar sidang kabinet yang dipimpin langsung Presiden Soekarno. Sidang kabinet ini, dihadiri banyak menteri. Jenderal Soeharto yang ketika itu sudah jadi Menteri Panglima Angkatan Darat menggantikan Jenderal Ahmad Yani tak hadir di Istana karena sedang sakit. Sidang kabinet itu sendiri akhirnya tak sampai tuntas. Presiden Soekarno memutuskan mengakhiri sidang secara mendadak setelah dapat nota laporan dari Komandan Cakrabirawa, Brigjen Sabur bahwa ada pasukan yang tak dikenal yang berbaur dengan para demonstran yang sedang menggelar aksi di depan Istana. Dengan tergesa, Presiden Soekarno pun lantas pergi ke Istana Bogor dengan menggunakan helikopter. Siapa pasukan yang tanpa tanda pengenal itu yang membuat Presiden Soekarno terpaksa mengakhiri rapat kabinet lalu terbang ke Istana Bogor? Mengutip buku," Sarwo Edhie dan Tragedi 1965," yang ditulis Peter Kasenda, pasukan tanpa tanda pengenal itu adalah pasukan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pasukan elit yang kini bernama Kopassus. Pasukan ini memang diperintahkan untuk mengepung Istana Negara tanpa tanda pengenal. Misinya adalah menangkap Soebandrio, Menteri Luar Negeri yang juga salah seorang Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI). Oleh para jenderal Angkatan Darat, Soebandrio dianggap sebagai durna yang kerap melontarkan informasi dan pernyataan yang provokatif. Ketika itu tuntutan pembubaran PKI begitu kencang disuarakan banyak elemen masyarakat terutama para mahasiswa. Nah, untuk menangkap Soebandrio, Kemal Idris yang ketika itu masih Brigjen dan jadi Kepala Staf Kostrad, memasang pasukan tanpa inisial dari RPKAD untuk mengelilingi istana pada saat sidang kabinet. Saat itu, Mayor CI Santosa dari RPKAD memilih Kompi Benhur yang dikenal dengan julukan Pasukan Jenggo karena kepiawaian dalam bertempur untuk menjalankan misi menangkap Soebandrio. "Pada tanggal 10 Maret 1966 sekitar pukul 22.00 WIB, Pasukan Jenggo dikumpulkan. Kepada mereka ditawarkan siapa yang berminat menjadi anggota pasukan tanpa inisial Ternyata hampir semua menawarkan diri, lalu dipilih 15 prajurit untuk tugas itu. Sebenarnya tugas ini berat karena bukan pasukan resmi. Jika gagal, maka bisa saja RPKAD lepas tangan untuk tidak bertanggung jawab," tulis Peter Kasenda dalam bukunya. Peter Kasenda juga menulis, sebelum pasukan RPKAD tanpa inisial berangkat ke Istana untuk menangkap Soebandrio, Komandan RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo mengatakan, anak buahnya boleh menembak Soebandrio yang ia juluki "Si Tikus"asal tidak dekat dengan Presiden Soekarno. Lalu pasukan RPKAD pun berangkat dengan dipecah dalam beberapa tim. Tim pertama yang terdiri dari prajurit mengambil posisi di.pintu masuk istana di Jalan Merdeka Utara. Sementara tim yang lain berjaga-jaga di sekitar Harmoni. Kata Peter Kasenda, pada saat bersamaan menjelang pasukan bergerak, Brigjen Kemal Idris diperintahkanPangkostrad Mayjen Umar Wirahadikusumah atas perintah Wakil Panglima AD Mayjen Maraden Panggabean untuk menarik kembali pasukannya. Namun Kemal Idris menolak perintah tersebut meski dikatakan akan dilaporkan pada Menpangad Letjen Soeharto. Sampai kemudian, pasukan tanpa inisial itu terdeteksi lalu dilaporkan ke Presiden Soekarno. Sidang kabinet yang baru berlangsung 10 menit itu pun dihentikan. Oleh Brigjen Sabur, Presiden Soekarno diminta meninggalkan rapat untuk kembali ke Istana Bogor. Presiden Soekarno pun lalu menyerahkan pimpinan sidang kepada Waperdam II J Leimena. Setelah itu Bung Karno segera terbang ke Bogor dengan helikopter. Waperdam I Soebandrio dan Waperdam III Chaerul Saleh menyusul dengan helikopter lain. Nah, kata Peter Kasenda, ketika itu, seorang prajurit RPKAD bernama Ngadiri sudah berada di posisi pintu masuk istana. Dia nyaris menembak Soebandrio yang kala itu sedang berdiri berdekatan dengan Presiden Soekarno dengan menggunakan roket launcher. "Seandainya Prajurit Suwarso tak mendekap Ngadiri dan mengeluarkan isi peluru dari moncongnya, bisa jadi helikopter itu hancur berkeping- keping. Pertempuran antara pasukan baret merah dengan Tjakrabirawa tak akan terelakkan lagi. Mungkin jalan sejarah bangsa Indonesia tidak sebagaimana yang diketahui pada saat ini," tulis Peter Kasenda dalam bukunya.

Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan Tentang Operasi RPKAD Paska 30 September '65

818125
8128
2210
00:28:06
29.09.2020

Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan menjelaskan operasi yang dilakukan RPKAD setelah peristiwa 30 September '65, dalam simposium mengurai peristiwa '65 dengan pendekatan kesejarahan. Acara tersebut diadakan di hotel Arya Duta Jakarta, 18-19 April 2016 lalu. #SintongPanjaitan #RPKAD #September65 Video Terkait: Prof. Dr. Todung Mulya Lubis Menyikapi Peristiwa '65: Dari Soal Hukum, Harapan, dan Memaafkan 🤍 Prof. Asvi Warman Adam: Sejarah Peristiwa '65, Tjakrabirawa, Pulau Buru & Soekarno Sebagai Korban 🤍 Prof. Ariel Heryanto Menjelaskan dengan Jernih Peristiwa '65 dan Tanggung Jawab Negara 🤍 Persahabatan Svetlana Njoto (Anak Njoto, Petinggi PKI) & Catherine Pandjaitan (Anak D.I.Pandjaitan) 🤍 Prof. Salim Said Menyikapi Peristiwa '65 🤍 Sukmawati Soekarnoputri Berkisah Tentang Letkol Untung, Soeharto, dan Peristiwa '65 🤍 Uraian Buya Syafii Maarif dalam Simposium Nasional Membedah Peristiwa '65 🤍 Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo Melihat Peristiwa '65 Dengan Jernih & Berani Berbeda 🤍 Sikap Luhut Tentang Peristiwa '65 🤍 Ilham Aidit (Putra D.N. Aidit) Buka Suara 🤍 Catherine Pandjaitan Memaafkan & Mengajak Berdamai 🤍

Kisah Perwira RPKAD Menolak Tawaran Bung Karno Jadi Komandan Batalyon I Cakrabirawa

10815
101
13
00:06:06
06.04.2022

Kisah Perwira RPKAD Menolak Tawaran Bung Karno Jadi Komandan Batalyon I Cakrabirawa Ini kisah tentang perwira RPKAD yang menolak tawaran Bung Karno jadi Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa. RPKAD yang dimaksud adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat atau yang sekarang bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kesatuan Kopassus atau dulu bernama RPKAD bukan pasukan biasa. Ini pasukan elit yang jago tempur. Kemampuannya mematikan. Pasukan ini sejak dibentuk, sudah kenyang dalam berbagai operasi tempur mulai dari operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat, penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi, penumpasan pemberontakan G30S PKI, penumpasan pemberontakan PRRI dan Permesta di Sumatera dan Sulawesi, operasi Seroja di Timor Timur, operasi di Papua dan Aceh. Nama pasukan ini juga sempat mendunia, kala berhasil membebaskan para penumpang pesawat Garuda yang dibajak di Bandara Don Muang Thailand. Operasi pembebasan sandera ini dikenal dengan sebutan operasi Woyla. Kala itu yang memimpin tim anti teror baret merah membebaskan sandera adalah Sintong Panjaitan. Terakhir, ia pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal. RPKAD atau Kopassus ini juga melahirkan banyak perwira yang kemudian namanya melegenda. Ada Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD yang dikenal jadi pemimpin pasukan penumpasan G30S PKI pada tahun 1965. Ada juga nama Benny Moerdani, perwira RPKAD yang dijuluki raja Intel Indonesia. Dan sejumlah nama besar lainnya seperti Prabowo Subianto, Sintong Panjaitan, Luhut Panjaitan, Subagyo HS, Agum Gumelar dan Sutiyoso. Nah, ada satu cerita menarik tentang Benny Moerdani, prajurit komando didikan langsung RPKAD. Dikutip dari artikel berjudul," Mencari Jejak Misteri Tjakrabirawa," yang ditulis oleh Aris Santoso yang dimuat di situs DW.com, Benny Moerdani rupanya pernah ditawari Bung Karno, Presiden RI saat itu untuk menjadi Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa. Resimen Cakrabirawa sendiri ketika itu adalah satuan elit pasukan pengawal Presiden atau yang sekarang dikenal dengan Paspampres. Ketika itu Benny masih berpangkat Mayor. Benny saat itu, ketika ditawari Bung Karno menjadi komandan Batalyon pasukan pengawal presiden baru saja dianugerahi Bintang Sakti atas perannya dalam infiltrasi ke Irian Barat atau Papua sekarang. Tapi, alih-alih menerima, Benny justru menolak tawaran itu. Padahal, ketika itu masuk Cakrabirawa adalah satu kebanggaan bagi seorang prajurit. Dalam artikelnya, Aris Santoso menulis, "Sungguh tak terbayangkan, apa yang ada dalam benak Benny saat itu, ketika banyak perwira dan prajurit ingin bergabung ke Cakrabirawa, Benny justru menolak. Siapa yang tidak ingin selalu dekat penguasa atau kekuasaan?" Menurut Aris, tawaran untuk jadi Komandan Batalyon Cakrabirawa itu dilontarkan Bung Karno saat Benny menghadap Presiden Indonesia pertama itu sekitar bulan Maret atau April 1963. Atau tak lama setelah Benny memperoleh Bintang Sakti, karena perannya sebagai komandan  Operasi Naga, sebuah operasi senyap di belantara Merauke Irian Barat pada bulan Juni 1962. Tapi Benny menolak tawaran itu. Benny beralasan ingin tetap di RPKAD. Akhirnya, posisi Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa itu diberikan kepada Mayor Untung Syamsuri yang juga penerima Bintang Sakti bersamaan dengan Benny. Untung menerima Bintang Sakti, karena perannya dalam operasi militer di Irian Barat pada tahun 1962. Untung ditarik ke Cakrabirawa dari Batalyon 454 Banteng Raiders. Di Yon 454, Untung pernah jadi komandan pasukan pemukul tersebut. Kata Aris dalam artikelnya, nasib manusia tidak bisa diramalkan. Seandainya Benny bersedia menerima undangan Bung Karno, mungkin Benny tidak akan muncul sebagai figur yang terlanjur sudah kita kenal selama ini. Menurut catatan yang ada tulis Aris dalam artikelnya, Untung baru diangkat sebagai Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa pada bulan Mei 1965. Atau hanya sekitar empat bulan sebelum terjadinya Peristiwa 30 September. Untung jadi Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa menggantikan posisi Letkol Infanteri Ali Ebram, yang dimutasi sebagai Asisten Intel Cakrabirawa. Nasib Untung sendiri selepas meletusnya peristiwa berdarah G30S PKI benar-benar buntung. Dia, ditangkap karena dianggap jadi pemimpin pemberontakan. Ia juga dicap sebagai pengkhianat negara karena memimpin gerakan berdarah pada 1 Oktober 1965 yang diawali dengan penculikan dan pembunuhan enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat. Untung meregang nyawa di hadapan regu tembak, setelah permohonan grasinya ditolak presiden. Sementara nasib Benny Moerdani benar-benar beruntung. Sempat keluar dari RPKAD, lalu ditarik Ali Moertopo ke Kostrad, karir Benny melesat jauh. Puncaknya, ia diangkat jadi Panglima ABRI oleh Presiden Soeharto yang juga bekas Pangkostrad. Mungkin, kalau Benny menerima tawaran Bung Karno, garis nasibnya akan berbeda. Boleh jadi nasibnya sama buntungnya dengan Untung Syamsuri. #cakrabirawa #rpkad #kopassus

Kepanikan Presiden Sukarno Menjelang Lanud Halim Diserbu Pasukan RPKAD

335856
2942
1937
00:05:46
26.11.2021

Kolonel KKO Bambang Widjanarko, ajudan Presiden Sukarno dan Mayor Bambang Supeno, Komandan Batalyon 430/Para Raider Brawijaya didepan Teperpu memberikan kesaksiannya atas peranan/keterlibatan Presiden Sukarno dalam peristiwa G30S/PKI. Bagaimana kejelasan nya? Traktir admin beli kopi : 🤍

Kisah Purnawira Prajurit Kopassus (RPKAD) Part II (end)

5966
79
9
00:22:47
06.09.2020

semoga video ini bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua.... yang belum nonton Part I ini linknya 🤍 mohon maaf atas segala kekurangannya, kita sama-sama belajar #militer #army #persit #tni #purnawira # kopassus #tniad #armyspouse #istri prajurit #persit kck #kodam siliwangi

Prajurit RPKAD Penumpas G30S PKI Ini Karirnya Melesat Hingga Jadi Panglima TNI

25091
244
15
00:08:41
13.11.2021

Prajurit RPKAD  yang Ikut Menumpas G30S PKI Ini Karirnya Melesat Hingga Jadi Panglima TNI Prajurit RPKAD  yang ikut menumpas G30S PKI ini karirnya melesat hingga jadi Panglima TNI. Prajurit RPKAD yang dimaksud adalah Jenderal Feisal Tanjung. Sementara RPKAD tak lain adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat,  satuan pasukan khusus Angkatan Darat yang kini bernama Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.  Ya, Feisal adalah salah satu prajurit RPKAD yang terlibat langsung dalam operasi penumpasan Gerakan 30 September yang meletus pada awal Oktober 1965. Gerakan 30 September yang  dipimpin oleh Letkol Untung Syamsuri, Komandan Batalyon I Cakrabirawa ini jadi pelaku penculikan dan pembunuhan enam jenderal pimpinan teras Angkatan Darat saat itu. Selain enam jenderal, Gerakan 30 September juga membunuh ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Jenderal Abdul Haris Nasution sendiri adalah  salah satu jenderal yang ditarget hendak diculik. Tapi, jenderal konseptor perang gerilya ini berhasil meloloskan diri. Namun, ajudannya, Lettu Pierre Tendean jadi korban. Diambil paksa kelompok penculik yang menyatroni rumah Nasution untuk kemudian dihabisi di Lubang Buaya. Kembali ke cerita Feisal Tanjung. Ketika peristiwa G30S PKI meletus, sebenarnya Kompi Feisal akan diterjunkan ke perbatasan Malaysia. Seperti diketahui, saat itu, tengah digaungkan politik konfrontasi terhadap Malaysia. Tapi karena meletusnya peristiwa berdarah penculikan para jenderal itu, tugas terjun ke perbatasan Malaysia dibatalkan. Pasukan RPKAD pun dikonsolidasikan Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto untuk menumpas kelompok G30S. Nah, Kompi pasukan yang dipimpin Feisal adalah salah satu yang dikerahkan memukul balik Gerakan 30 September. Kompi RPKAD pimpinan Feisal terlibat langsung dalam penyerbuan ke Pangkalan Halim Perdanakusuma pada tanggal 2 Oktober 1965. Kompi pimpinan Feisal juga ikut digerakkan ke Jawa Tengah setelah penumpasan G30S PKI di Jakarta dianggap selesai. Siapa Feisal Tanjung, anak buah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD saat itu yang ikut terlibat langsung dalam penumpasan G30S ini? Berikut profil Feisal Tanjung, jenderal baret merah yang terlibat langsung melibas pemberontakan G30S PKI.  Feisal, lahir di  Tarutung, Tapanuli, Sumatera Utara pada tanggal 17 Juni 1939. Feisal lulus dari AMN pada tahun 1961. Sebelum ditempatkan di RPKAD, Feisal sempat ditugaskan di Kodam Pattimura. Di Kodam Pattimura Feisal sempat jadi Komandan Peleton 1 Kompi 2 Yonif 152 dan  Komandan Kompi 2 Yonif 152 Kodam Pattimura. Baru setelah itu masuk RPKAD. Di Korps Baret Merah yang sekarang bernama Kopassus, Feisal pernah dipercaya jadi Komandan Kompi Batalyon 2 RPKAD. Nah, saat jadi Komandan Kompi Batalyon 2 RPKAD inilah, Feisal terlibat langsung dalam penumpasan G30S PKI. Setelah itu, Feisal diangkat jadi Komandan Detasemen 41 Grup 4 RPKAD. Lalu ditunjuk jadi  Komandan Karsa Yudha 1 Grup 4 RPKAD. Usai bertugas di Papua, Feisal kembali ditarik ke RPKAD untuk memegang posisi  Wakil Komandan Grup 1 RPKAD atau  Grup 1 Para Komando. Setelah itu dia ditugaskan jadi  Dosen Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada tahun 1972. Selesai bertugas jadi dosen, Feisal diangkat jadi  Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad. Lalu dipromosikan menjadi  Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad. Pada tahun 1983, Feisal diangkat jadi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri. Jabatan ini dipegangnya sampai tahun 1985, sebelum kemudian dia dipromosikan jadi  Panglima Kodam VI/Tanjungpura. Feisal jadi Pangdam Tanjungpura hingga tahun 1988. Feisal lalu jadi Komandan Seskoad. Sebelumnya akhirnya diberi mandat menjadi Kepala Staf Umum ABRI pada tahun  1992. Setelah itu dapat kejutan. Dia diangkat Presiden Soeharto menjadi orang nomor satu ABRI atau Panglima ABRI. Penunjukan Feisal sebagai Panglima ABRI mengejutkan banyak pihak. Sebab tak ada yang menyangka Soeharto akan memilih Feisal.  Kala itu, yang ramai disebut sebagai calon kuat Panglima ABRI adalah Jenderal Wismoyo Arismunandar, yuniornya di AMN yang sedang jadi Kasad. Feisal jadi  Panglima ABRI dari tahun  1993 sampai 1998, sebelum kemudian digantikan oleh Jenderal Wiranto. Oleh Soeharto, Feisal ditarik ke kabinet sebagai  Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Sampai kemudian Soeharto pun lengser dari jabatannya sebagai Presiden. Habibi yang saat itu jadi Wakil Presiden naik menggantikannya. Di era Habibie, Feisal masih dipercaya jadi Menteri. Oleh Habibie, Feisal  diangkat jadi  Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Pada hari Senin tanggal 18 Februari 2013, Feisal menghembus nafas terakhirnya. Jenderal baret merah yang kenyang dengan operasi militer ini pun kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.  #feisaltanjung #g30spki #kopassus

Назад
Что ищут прямо сейчас на
rpkad mol qoy chorva bozori шава realme buds air 3 vs 2 обзор достаевский самые жуткие хоррор игры marr realme phone price laravel course MALFOY путь обновы блек раша CoH2 гайд по чайнику ано закирова неча ёшда kop sdy скотт риттер Тайвань lux vs irelia mid классдля кайфа opel mokka wymiary cách mod skin anql mod